- Praktisi GIS Timtim Deby Purnasebta menyatakan kemacetan di jalur Padang-Bukittinggi perlu diatasi melalui sistem transportasi terintegrasi, bukan sekadar proyek.
- Peningkatan mobilitas serta risiko bencana di koridor strategis ini menyebabkan waktu tempuh perjalanan membengkak hingga enam jam saat libur.
- Pembangunan jalan tol, jalur kereta api, dan fly over harus saling melengkapi untuk mengoptimalkan konektivitas, efisiensi, serta ketahanan transportasi wilayah.
SuaraSumbar.id - Kemacetan yang terus berulang di Jalan Padang-Bukittinggi, Sumatera Barat, dinilai tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun satu proyek infrastruktur.
Persoalan tersebut membutuhkan sistem transportasi yang terintegrasi dan disusun berdasarkan karakter ruang serta kondisi geospasial wilayah.
Praktisi Geographic Information System (GIS) Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, mengatakan koridor Padang-Bukittinggi merupakan jalur strategis yang menghubungkan kawasan pesisir dengan dataran tinggi di Sumatera Barat.
Jalur ini juga menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga arus wisata menuju Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Provinsi Riau.
"Koridor ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Karena itu, penyelesaian persoalan kemacetannya harus dilakukan secara menyeluruh," kata Timtim, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurutnya, kemacetan hampir selalu terjadi setiap musim libur, akhir pekan, maupun periode Lebaran. Pada arus balik Lebaran 2026, misalnya, antrean kendaraan di kawasan Lembah Anai mencapai lebih dari tujuh kilometer.
"Dalam kondisi tersebut, kendaraan memerlukan waktu hampir satu jam untuk menempuh jarak sekitar satu kilometer sehingga rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah (one way) harus diberlakukan," ujarnya.
Ia menjelaskan, pada kondisi normal perjalanan dari Padang menuju Bukittinggi dapat ditempuh sekitar dua hingga dua setengah jam.
"Namun ketika volume kendaraan meningkat, waktu tempuh dapat membengkak menjadi empat hingga enam jam, terutama di titik-titik kemacetan seperti Lembah Anai, Padang Lua, dan kawasan Pasar Koto Baru," ucapnya.
Baca Juga: Ombudsman Soroti Dugaan Maladministrasi SPMB Sumbar, Validasi Prestasi Dinilai Bermasalah
Timtim menilai perdebatan mengenai prioritas pembangunan antara Jalan Tol Sicincin-Bukittinggi, reaktivasi jalur kereta api, maupun pembangunan Fly Over Padang Lua merupakan cara pandang yang kurang tepat.
Menurutnya, ketiga proyek tersebut bukanlah pilihan yang saling menggantikan, melainkan memiliki fungsi berbeda dalam membangun sistem transportasi yang saling melengkapi.
"Dari perspektif geospasial, kemacetan di koridor Padang–Bukittinggi merupakan dampak dari tingginya mobilitas regional, keterbatasan jaringan transportasi yang masih bertumpu pada satu koridor utama, tingginya aktivitas pada sejumlah simpul lalu lintas, kondisi bentang alam Pegunungan Bukit Barisan, serta tingginya risiko bencana," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah menentukan proyek mana yang harus diprioritaskan, melainkan membangun sistem transportasi yang mampu menjawab karakter ruang di Sumatera Barat.
Menurut Timtim, Jalan Tol Sicincin-Bukittinggi berfungsi meningkatkan konektivitas regional dengan mengalihkan sebagian perjalanan jarak jauh dari jalan nasional. Dengan demikian, jalan nasional dapat lebih optimal melayani mobilitas lokal sekaligus meningkatkan efisiensi perjalanan.
"Meski demikian, pembangunan jalan tol memiliki tantangan besar karena harus mempertimbangkan kondisi bentang alam dan aspek sosial masyarakat Minangkabau," cetusnya.
Berita Terkait
-
Ratusan Warga Mengungsi Malam Hari Usai Terjebak Banjir di Kabupaten Agam
-
Cara Semen Padang Rekrut Stefano Lilipaly: Dari Video Call hingga Bujuk dengan Ini
-
Diduga Korban Bullying, Pelajar di MAN 3 Padang Belajar Merakit Bom dari Media Sosial
-
Andre Rosiade Curiga Promosi ke Super League Sudah Diatur, Minta Championship Berjalan Adil
-
Dendam Bullying Jadi Pemicu? Polisi Dalami Alasan Pelajar MAN 3 Padang Rakit dan Ledakkan Bom
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
BKSDA-Polres Agam Tangkap Pria Hendak Jual Ratusan Ekor Burung ke Lampung
-
Anak di Bawah 16 Tahun Dinilai Belum Siap Punya Media Sosial
-
Persoalan Macet Padang-Bukittinggi Ada pada Sistem, Bukan Pilihan Proyek
-
Ombudsman Soroti Dugaan Maladministrasi SPMB Sumbar, Validasi Prestasi Dinilai Bermasalah
-
BRI Dukung Kolaborasi OJK dan Kemkomdigi Persempit Ruang Gerak Judi Online