Suhardiman
Rabu, 06 Mei 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi cara penularan virus hanta. (Pexels/jamie hendry)
Baca 10 detik
  • Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang menular ke manusia melalui kontak urin atau kotoran tikus.
  • Penderita virus hanta mengalami gejala demam dan gagal napas akibat kerusakan pembuluh darah paru dengan tingkat kematian tinggi.
  • Penanganan medis berupa diagnosis cepat dan terapi suportif sangat krusial karena belum tersedia terapi antivirus spesifik untuk pasien.

SuaraSumbar.id - Virus hanta menjadi perhatian karena potensi dampaknya yang serius terhadap kesehatan manusia. Virus ini termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, dalam hal ini terutama dari tikus.

Menurut epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, virus ini bisa menular melalui inhalasi aerosol dari debu urin tikus yang mengering atau air liur tikus yang sakit virus andes yang dapat menyebabkan penyakit sindrom paru.

"Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu," katanya melansir Antara, Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menjelaskan virus hanta bisa menular pada orang yang kontak dengan urin atau kotoran tikus di permukaan. Namun penyebaran ini tidak terjadi langsung begitu saja, perlu ada strain tertentu seperti virus andes yang bisa secara terbatas menular pada manusia ketika terjadi kontak silang.

Pada orang yang sudah terkontaminasi virus hanta, ada fase klinis awal yang menyertai seperti demam, nyeri, otot lemas, hingga pada fase kritis adanya kerusakan pembuluh darah paru dan kebocoran cairan sehingga menyebabkan edema dan gagal napas akut.

"Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat," ujar Dicky.

Perburukan kondisi menuju fase berat bisa terjadi dalam hitungan hari sehingga penanganan dan deteksi dini diperlukan. Faktor ketahanan hidup jika terjangkit virus hanta adalah diagnosis yang tepat dan cepat untuk menghindari fase paru berat dan kematian karena keterlambatan diagnosis.

Hingga saat ini tidak ada terapi antivirus yang spesifik untuk penyakit ini, namun terapi suportif bisa dilakukan seperti memenuhi kebutuhan oksigen dengan ventilator dan manajemen cairan yang ketat. Ia juga mengatakan potensi virus ini untuk menjadi pandemi global sangat kecil karena penularan utama bukan antar manusia.

Ia juga mengingatkan untuk menjaga kebersihan diri khususnya di lingkungan yang tinggi risiko seperti lingkungan kapal laut, atau di ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas.

Load More