- Dokter Dinda Derdameisya menyarankan orang tua segera membawa remaja ke dokter jika belum menstruasi pada usia 14 tahun.
- Konsultasi medis diperlukan saat remaja berusia 16 tahun meski sudah mengalami perubahan fisik atau tanda seks sekunder lainnya.
- Orang tua harus mengedukasi anak mengenai proses menstruasi agar remaja memahami perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi mereka secara tepat.
SuaraSumbar.id - Banyak orang tua masih menganggap keterlambatan menstruasi pada remaja putri sebagai hal biasa. Padahal, kondisi ini harus segera dikonsultasikan jika melewati batas usia tertentu.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr. Dinda Derdameisya mengatakan, jika jika remaja putri belum mengalami menstruasi hingga usia 14 tahun tanpa tanda pubertas, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter. Misalnya seperti tidak tumbuhnya payudara dan bulu-bulu halus di beberapa bagian tubuh.
"Kalau dia (remaja putri) belum menstruasi itu harus konsultasi pada dokter, maksimal usia 14 tahun kalau anak tidak ada tanda seks sekunder," kata Dinda, melansir Antara, Kamis, 23 April 2026.
Kondisi lain yang perlu mendapatkan konsultasi dari dokter jika remaja putri sudah berusia 16 tahun sudah mengalami perubahan fisik, namun belum mengalami menstruasi.
"Tapi kita juga perlu melihat juga tinggi badannya, apakah masuk (sesuai) ke pertumbuhan kurva anak (atau tidak). Jadi minimal menstruasi itu pada usia sekitar 10-11 tahun, kemudian maksimalnya nanti 16 tahun," ujar Dinda.
Menstruasi merupakan proses pertumbuhan alami yang akan dilalui oleh seluruh remaja putri. Terjadinya menstruasi ditandai dengan keluarnya darah dari kemaluan. Hal ini dapat terjadi karena hormon-hormon reproduksi dalam tubuh telah matang sempurna.
Sebenarnya, anak perempuan sudah memiliki indung telur sejak lahir. Namun pada anak-anak di bawah usia 11 tahun, Dinda menyampaikan hormon tersebut masih belum matang dan jumlahnya sangat rendah.
"Ketika dia (hormon) sudah mencapai satu level, akan terjadi pematangan sel telur, dinding rahim menebal dan ketika sudah sampai level itu tidak ada pembuahan, darah menstruasi akan turun," jelasnya.
Dia berharap proses tersebut dapat dikomunikasikan secara lebih terbuka antara anak perempuan dengan orang tua, guna memastikan setiap anak mendapatkan informasi yang akurat dan kesehatannya tetap terjaga.
Keluarga disebutnya menjadi tempat pertama anak dapat teredukasi dengan baik, dan dapat lebih mudah memahami perubahan yang terjadi pada tubuhnya masing-masing.
"Jadi jangan sampai si anak juga kebingungan, karena orang tuanya tidak mengerti," ucapnya.
Berita Terkait
-
Apa Itu Mindfulness? Bukan Memaksa Diri Selalu Berpikir Positif, Ini Penjelasannya
-
Posko Kesehatan Pelabuhan Trisakti Tangani Korban Virgo Transport 8
-
Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo
-
5 Rekomendasi Minyak Rosemary Perawatan Rambut Rontok
-
Pentingnya Mengurai Benang Kusut Pikiran lewat Journaling
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Inilah Cerita Tentang Dewi Natalia, Mantri BRI yang 15 Tahun Lawan Rentenir dan Dukung Pedagang
-
5 Tahun Holding Ultra Mikro, Perkuat Ekosistem UMKM
-
Raih Penghargaan, BRI Dorong Transformasi Digital Lewat BRImo Taiwan
-
DPLK BRI Tegaskan Komitmen ESG Lewat Raihan Kehati ESG Award 2026
-
Dukung Arahan Prabowo, BRI Siap Perluas Rekening Perbankan Masyarakat