- Aparat Pemkot Bukittinggi dan Satpol PP diduga memasuki kampus Universitas Fort De Kock secara paksa pada Rabu, 22 Juli 2026.
- Tindakan kekerasan oleh aparat tersebut menyebabkan seorang dosen dan petugas keamanan kampus mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit.
- Pihak kampus mendesak kepolisian menyelidiki insiden ini secara profesional dan memproses hukum semua pihak yang diduga terlibat.
SuaraSumbar.id - Seorang dosen Universitas Fort De Kock Bukittinggi, Sumatera Barat, diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan sejumlah aparat Pemkot Bukittinggi dan personel Satpol PP.
Kuasa Hukum Universitas Fort De Kock Bukittinggi, Guntur Abdurrahman, membenarkan adanya insiden tersebut. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.30 WIB.
Ia menyebut sejumlah aparat Pemkot Bukittinggi bersama personel Satpol PP diduga memasuki lingkungan kampus tanpa izin.
Menurut Guntur, aparat diduga memasuki area kampus dengan cara memanjat pagar sebelum melakukan penguasaan secara paksa terhadap lahan yang diklaim sebagai milik Universitas Fort De Kock.
"Aparat masuk ke lingkungan kampus dengan cara memanjat pagar dan kemudian melakukan penguasaan secara paksa terhadap lahan yang diklaim sebagai milik Universitas Fort De Kock," katanya, Rabu, 22 Juli 2026.
Saat pihak kampus memberikan teguran, diduga terjadi tindakan kekerasan terhadap seorang dosen dan petugas keamanan kampus.
"Akibat insiden tersebut, kedua korban dilaporkan mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit," ungkapnya.
Selain itu, Guntur mengungkapkan adanya dugaan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas instruksi langsung Wali Kota Bukittinggi. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses hukum yang berlaku.
Menurutnya, apabila rangkaian peristiwa tersebut terbukti, maka tindakan itu tidak hanya mengandung unsur dugaan tindak pidana kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama dan dugaan perampasan secara paksa, tetapi juga berpotensi menjadi pelanggaran hak asasi manusia serta mencederai dunia pendidikan.
"Kampus adalah ruang ilmu pengetahuan, bukan arena kekerasan. Tidak boleh ada aparat negara yang menggunakan kekuatan secara sewenang-wenang terhadap sivitas akademika," katanya.
Universitas Fort De Kock mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk segera melakukan penyelidikan secara profesional dan independen terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat.
"Pihak kampus juga meminta penyidik menetapkan tersangka apabila telah ditemukan alat bukti yang cukup sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tuturnya.
Guntur menegaskan, apabila dalam proses penyidikan ditemukan bukti keterlibatan pejabat, termasuk Wali Kota Bukittinggi sebagai pihak yang diduga memberikan instruksi, maka proses hukum harus tetap berjalan tanpa memandang jabatan.
"Negara berkewajiban melindungi dunia pendidikan serta menjamin keamanan sivitas akademika dalam menjalankan aktivitasnya," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan video yang diterima, tampak seorang dosen diduga ditarik dan diseret oleh oknum Satpol PP di lingkungan kampus.
Berita Terkait
-
Kronologi Ribut Sesama Anggota DPRD Pekanbaru di Bandara Soetta yang Kini Dibidik Polisi
-
Kadet Unhan Diduga Aniaya Siswa Sekolah Rakyat di Jember, Gus Ipul: Tak akan Kami Diamkan
-
Dua Anggota DPRD Pekanbaru Ribut Saling Cekik di Bandara Soetta, Polisi Kantongi Bukti CCTV
-
Polisi Periksa Lima Saksi Kasus Penganiayaan Satpol PP Saat Penertiban Parkir Liar di Jaksel
-
Adu Jotos Satpol-PP dan Pekerja di Jaksel, Polisi Turun Tangan
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon
- Bisakah Bedak Marcks dan Air Mawar Viva untuk Mengunci Makeup? Begini Caranya
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Solar Subsidi Diduga Dikumpulkan di Pessel untuk Dijual ke Jambi, Polisi Tangkap Pria 53 Tahun
-
DPO Sejak 2025, Mantan Pimpinan BPR JKT-Pariaman Akhirnya Diringkus
-
Yakin Fundamental Bisnis Tetap Kuat, BRI Lanjutkan Buyback Saham Tahap II
-
Nasib Ribuan Manajer Koperasi Merah Putih Belum Jelas, Desak Kepastian Gaji dan Kontrak
-
Penertiban Pasar Raya Berujung Ricuh, DPRD Padang Minta Pemko Evaluasi