- Sebanyak lima ton ikan milik petani keramba jaring apung mati massal di Danau Maninjau pada Januari 2026.
- Peristiwa kematian ikan tersebut menyebabkan kerugian ekonomi bagi para petani mencapai Rp125 juta di Nagari Bayua.
- Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan dan angin kencang menyebabkan penurunan kadar oksigen di air danau vulkanik.
SuaraSumbar.id - Kematian ikan secara massal kembali menghantam sektor perikanan di Danau Maninjau, Sumatera Barat (Sumbar), pada awal 2026.
Hal ini membuat para petani keramba jaring apung (KJA) mengalami kerugian besar yang diperkirakan mencapai Rp125 juta.
Total ikan yang mati diperkirakan mencapai lima ton. Ikan yang mati milik milik sejumlah petani tersebar di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya.
Hal ini dikatakan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam Rosva Deswira, melansir Antara, Selasa, 14 April 2026.
"Kerugian Rp125 juta dari kematian ikan sebanyak lima ton pada akhir Januari 2026 dengan harga ikan tingkat petani Rp25 ribu per kilogram," katanya.
Menurut Rosva, kematian ikan akibat oksigen berkurang di danau vulkanik tersebut setelah curah hujan cukup tinggi disertai angin cukup kencang.
Dengan kondisi itu, ikan mengapung dan menjadi pusing sehingga mati secara massal.
"Hujan disertai angin kencang mengakibatkan naiknya air permukaan danau, sehingga oksigen berkurang," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini petani mulai melakukan aktivitas berbudidaya ikan setelah kondisi cuaca sudah membaik.
Dirinya mengimbau petani agar mengurangi tebar benih ikan dan segera memanen ikan apabila angin cukup kencang dalam meminimalisir kematian ikan.
"Ini harus dilakukan agar ikan tidak mati, sehingga kita tidak mengalami kerugian," katanya.
Ia mengakui kerugian petani keramba jaring apung di Danau Maninjau mencapai Rp35,71 miliar dengan kematian ikan 1.428,73 ton selama 2025.
Kematian ikan secara massal tersebut terjadi saat bencana hidrometeorologi melanda daerah itu pada akhir November-Desember 2025.
"Ada beberapa kali ikan mati di danau saat bencana hidrometeorologi melanda daerah itu," katanya.
Berita Terkait
-
Dendam Bullying Jadi Pemicu? Polisi Dalami Alasan Pelajar MAN 3 Padang Rakit dan Ledakkan Bom
-
Kondisi di MAN 3 Padang Pascaledakan Bom Rakitan
-
Meki Nawipa Lepas Ekspor Perdana Hasil Perikanan Papua Tengah ke Pasar Internasional
-
Tradisi Hoyak Tabuik 2026 Kembali Meriahkan Pantai Gandoriah Pariaman
-
Lian, Ombak, dan Luka yang Disembunyikan: Review Jujur Novel Ingatan Ikan-Ikan
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Warga Agam Diduga Jadi Korban Penyekapan di Myanmar dan Memohon Pulang
-
PBHI Serahkan Data Baru ke Ombudsman, Soroti Dokumen Kebencanaan Izin Tambang Andesit Kasang
-
Psikolog Ungkap Pencegahan Bullying Tak Cukup dengan Hukuman, Berkaca dari Kasus MAN 3 Padang
-
Siswa MAN 3 Padang Belajar Rakit Bom dari Internet
-
Fakta Siswa Pembawa Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Dikenal Pendiam dan Sering Absen