- Dokter spesialis mata Amir Shidik memperingatkan bahwa penggunaan obat tetes mata mengandung steroid secara sembarangan berisiko menyebabkan katarak dan glaukoma.
- Penggunaan obat steroid tanpa resep dokter untuk mengatasi mata gatal atau merah dapat memicu kenaikan tekanan bola mata yang berbahaya.
- Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gangguan mata agar mendapatkan penanganan medis yang tepat dan aman.
SuaraSumbar.id - Katarak merupakan salah satu gangguan penglihatan yang paling sering dialami masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika lensa mata yang seharusnya jernih menjadi keruh sehingga penglihatan terlihat buram, berkabut, bahkan dapat menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani dengan tepat.
Dokter spesialis mata subspesialis katarak dan bedah refraksi, Amir Shidik, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan obat tetes mata, terutama yang mengandung steroid.
Menurutnya, penggunaan obat tetes mata mengandung steroid untuk mengobati indikasi alergi bisa menyebabkan katarak.
"Obat steroid memang enak buat (mengobati mata) gatal, tapi, bikin glaukoma dan katarak,” kata Amir, melansir Antara, Kamis, 9 april 2026.
Menurut Amir, kelompok yang paling rentan mengalami alergi mata adalah anak-anak, terutama yang berusia di bawah 15 tahun. Alergi mata bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari debu, susu, hingga kondisi lingkungan.
Alergi yang kerap ditandai dengan mata gatal atau mata merah sering membuat seseorang menggunakan obat tetes mata tanpa konsultasi dan resep dokter. Praktik menggunakan obat tetes mata tanpa resep memicu penyalahgunaan obat tetes mata berbahan steroid hingga menimbulkan efek samping.
“Obat mata steroid itu efek sampingnya tekanan bola mata naik, katarak lebih cepat,” ujar Amir.
Jika anak atau orang dewasa mengalami keluhan seperti mata merah atau sering mengucek mata, Amir menyarankan untuk memeriksakan diri kepada dokter untuk mengetahui apalah keluhan itu disebabkan oleh mata kering atau reaksi alergi. Terutama pada mata merah, sang dokter menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jika kondisi tidak membaik dalam satu hingga dua hari.
"Mata merah itu tanda inflamasi. Pada saat itulah kita butuh antibiotik, tapi, harus dalam pengawasan dokter," katanya.
Berita Terkait
-
5 Ciri-Ciri Bedak Padat Sudah Kedaluwarsa atau Jamuran yang Bahaya untuk Kulit
-
Geger Isu BPJS Kesehatan Dihapus dan Dialihkan ke Koperasi, Ini Respons Tegas DPR
-
Benarkah Emisi Pesawat Makin Beracun Seiring Waktu? Studi Ungkap Hal Ini
-
Bentala Sella: Romansa Unik antara Dokter dan Pengusaha Sayur Hidroponik
-
Alih-alih CKG Menteri, Guru Besar UGM Sarankan Tes Kejiwaan dan Alihkan Anggaran ke Korban Karhutla
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Bangun 100 Sekolah Rakyat di 32 Provinsi, Kementerian PU Serap 97 Ribu Tenaga Kerja
-
Penyelundupan 2 Ton Solar Subsidi ke Jambi Digagalkan, Disamarkan dalam Karung Pupuk dan Fiber Ikan
-
298 Pelanggaran Tertangkap Kamera ETLE Polda Sumbar, 200 Surat Konfirmasi Dikirim
-
Terungkap Dugaan Praktik Mucikari di Padang, Satu Pria Dibawa ke Polda
-
Jaga Kesehatan Keluarga, BRI Berikan Healthcare Privilege Eksklusif Bersama Prodia