-
Anak terpapar ekstremisme teridentifikasi dari perilaku dan aktivitas digital.
-
True crime community jadi pintu masuk konten kekerasan pada anak.
- Densus 88 lakukan intervensi dan pendampingan pada puluhan anak.
SuaraSumbar.id - Densus 88 mengungkap ciri-ciri anak terpapar ekstremisme yang mulai menyusup melalui aktivitas digital, khususnya keterlibatan dalam true crime community (TCC).
Fenomena ini menjadi perhatian serius aparat karena menyasar kelompok usia rentan, yakni anak-anak dan remaja, dengan konten kekerasan yang berpotensi membentuk perilaku ekstrem.
Juru Bicara Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana menjelaskan bahwa ciri-ciri anak terpapar ekstremisme dapat dikenali sejak dini melalui perubahan perilaku dan kebiasaan digital.
Ciri pertama yang kerap ditemukan adalah adanya simbol, gambar, atau nama pelaku kekerasan yang tersimpan di barang pribadi anak, seperti gawai, buku, atau aksesori.
“Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya,” katanya, Kamis (8/1/2026).
Kedua, terlihat dari kecenderungan anak menarik diri dari lingkungan sosial. Anak-anak yang terlibat dalam komunitas TCC merasa lebih nyaman berada di dunia maya, sehingga memilih menyendiri dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses konten dalam komunitas tersebut.
Ketiga, anak mulai menirukan tokoh atau idola yang populer di komunitas true crime. Peniruan ini tidak hanya sebatas ketertarikan, tetapi juga tampak pada gaya berpakaian, unggahan media sosial, hingga perilaku keseharian.
“Ini sudah terbukti. Pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH (anak berhadapan hukum) yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari unggahannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya,” katanya.
Keempat, anak yang terpapar ekstremisme juga menunjukkan ketertarikan berlebihan terhadap konten kekerasan dan sadistis. Menurut Mayndra, konten yang diakses tidak lagi tergolong wajar dan dapat memengaruhi empati serta cara pandang anak terhadap kekerasan.
“Konten-konten yang diakses tidak normal. Jadi, kalau orang normal melihat itu pasti tidak tega melihat kejadian-kejadian kekerasan yang sering diunggah di komunitas tersebut,” ucapnya.
Kelima, anak mudah marah apabila gawainya dilihat oleh orang lain. Mereka menganggap konten yang dikonsumsi sebagai privasi dan bereaksi emosional ketika merasa diawasi. Ciri terakhir yang diungkap Densus 88 adalah anak membawa senjata api replika atau pisau.
“Kerap kadang dia bawa ke sekolah untuk dibuat inspirasi melakukan kekerasan,” ucapnya.
Dalam pemetaan yang dilakukan, Densus 88 mencatat terdapat 70 anak yang tergabung dalam grup true crime community dengan konten kekerasan.
Anak-anak tersebut tersebar di 19 provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta sebanyak 15 orang, Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang. Rentang usia mereka berkisar antara 11 hingga 18 tahun.
Terhadap puluhan anak tersebut, Densus 88 telah melakukan berbagai langkah intervensi. Sebanyak 67 anak telah menjalani asesmen, pemetaan, konseling, serta pendampingan melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan terkait.
Berita Terkait
-
Densus 88 Kencangkan Pengawasan Jaringan Teror! Antisipasi Dampak Perang ASIsrael vs Iran
-
Kapolri Minta Densus 88 Pertahankan Zero Terrorist Attack Saat Lebaran
-
5 Rekomendasi Serum Vitamin C Terbaik untuk Melindungi Kulit dari Radikal Bebas
-
70 Anak Indonesia Terpapar Komunitas Kekerasan TCC, Komisi X DPR: Tentu Ini Jadi Persoalan Serius
-
Fakta Baru! Siswa SMP Pelaku Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
Angin Puting Beliung Terjang Agam, Dua Rumah Rusak dan Warung Tertimpa Pohon
-
Kronologi Aksi Foto Rombongan Arteria Dahlan di Tikungan Sitinjau Lauik: Bermula dari Miskomunikasi
-
Bandara Minangkabau Padat, 47 Penerbangan Hilir Mudik dalam Sehari, Rute Jakarta Mendominasi
-
Buntut Rombongan Arteria Dahlan Foto di Tikungan Sitinjau Lauik, Kapolres Solok Kota Minta Maaf
-
Sering Terendam Banjir, Pemkab Padang Pariaman Putuskan Relokasi Puskesmas Sintuk