-
Kegempaan Gunung Marapi meningkat tajam sepanjang akhir Desember 2025.
-
Badan Geologi mencatat lonjakan gempa hembusan dan vulkanik.
- Kondisi kegempaan menunjukkan potensi peningkatan aktivitas erupsi.
SuaraSumbar.id - Kegempaan Gunung Marapi mengalami peningkatan signifikan pada akhir 2025. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan lonjakan aktivitas seismik Gunung Marapi yang berada di Sumatera Barat (Sumbar) selama periode 16–31 Desember 2025.
Data tersebut menunjukkan perubahan pola kegempaan yang menjadi perhatian otoritas kebencanaan dan masyarakat sekitar gunung api aktif tersebut.
Pelaksana tugas (Plt) Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa kegempaan Gunung Marapi dalam dua pekan terakhir cenderung meningkat, terutama gempa-gempa yang terjadi dekat permukaan.
“Kegempaan Gunung Marapi dalam dua minggu terakhir cenderung meningkat terutama pada gempa-gempa dekat permukaan,” kata Lana melalui keterangan tertulis, Selasa (6/1/2026).
Badan Geologi merinci, peningkatan kegempaan Gunung Marapi terlihat jelas pada sejumlah jenis gempa. Gempa hembusan melonjak dari 28 kejadian menjadi 279 kali. Tremor non-harmonik meningkat dari 78 menjadi 132 kali.
Sementara itu, gempa vulkanik dangkal naik dari lima menjadi 14 kali, gempa vulkanik dalam dari 11 menjadi 14 kali, serta gempa tektonik lokal meningkat dari 31 menjadi 54 kali.
“Data kegempaan saat ini menunjukkan adanya indikasi peningkatan pasokan fluida kembali,” katanya.
Meski demikian, Badan Geologi mencatat bahwa energi atau tekanan dari pasokan fluida tersebut dilepaskan melalui aktivitas hembusan yang terlihat meningkat.
Pada saat yang sama, energi seismik yang terekam melalui real time seismic amplitude measurement masih menunjukkan fluktuasi di sekitar nilai baseline.
Dalam dua minggu terakhir, variasi kecepatan seismik tercatat mengalami fluktuasi menurun menjauhi nol dengan simpangan yang tergolong besar.
Selain itu, nilai koherensi juga menurun hingga berada di bawah 0,6. Kondisi ini mengindikasikan tekanan pada tubuh gunung api dekat permukaan cukup besar dan medium tubuh gunung mengalami gangguan atau berada dalam kondisi kurang stabil.
“Kondisi seperti ini dapat menunjukkan potensi terjadinya erupsi menjadi lebih meningkat,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan seiring dengan pemantauan intensif yang terus dilakukan terhadap aktivitas Gunung Marapi.
Dalam laporan yang sama, data deformasi dari alat tiltmeter hingga saat ini belum memperlihatkan adanya inflasi yang signifikan pada tubuh gunung api. Untuk laju emisi gas Sulfur Dioksida (SO2), pengukuran oleh satelit Sentinel sering tidak terdeteksi.
Hal ini diduga karena saat pengamatan gunung tertutup awan atau kabut, terjadi hujan, atau emisi gas SO2 yang dilepaskan relatif kecil. Terakhir, emisi SO2 terukur pada 29 Desember 2025 sebesar 51 ton per hari dan masih tergolong rendah.
Berita Terkait
-
Gotong Royong Membangun Kembali Sumatra dan Aceh yang Diterjang Banjir
-
Jalan Kembali Terbuka, Bumi Sumatera Perlahan Menemukan Irama
-
Tentang Menata Kembali Hidup Pascabencana Sumatra
-
Kemenag Serahkan Bantuan Rp10,2 Miliar untuk Penyintas Banjir Sumatra Barat
-
Banjir Sumatera Bukan Bencana Alam, Amnesty International: Cerminan Kebijakan Pro Deforestasi
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
Terkini
-
933 Kasus Gigitan Rabies Tanah Datar Selama 2025, Hewan Peliharaan Jadi Sorotan
-
Huntara Korban Bencana Sumbar Dikebut Rampung Jelang Ramadhan, Agam Prioritas Utama
-
50 Alat Berat Dikebut Normalisasi Sungai di Sumbar, Cegah Banjir Susulan!
-
Ini Penyebab Sinkhole Limapuluh Kota, Bukan dari Runtuhan Batu Gamping!
-
Sinkhole di Sawah Limapuluh Kota Keluarkan Air Biru Jernih, Ini Penjelasan Badan Geologi