SuaraSumbar.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Diduga, api berasal dari aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar, yang kemudian menjalar hingga ke kawasan hutan akibat tiupan angin kencang dan musim kemarau berkepanjangan.
“Dari hasil informasi petugas yang melakukan pemadaman karhutla di lapangan, diduga api ini berasal dari pembukaan lahan dengan cara dibakar sehingga api menjalar ke kawasan hutan,” kata Kepala Dishut Sumbar, Ferdinal Asmin, dikutip dari Antara, Rabu (23/7/2025).
Ferdinal menyebut warga kemungkinan hanya berniat membersihkan lahan pertanian. Namun, faktor cuaca kering dan angin kencang menyebabkan api cepat meluas hingga ke wilayah hutan dan sulit dikendalikan.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumbar sudah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat musim kemarau yang rawan menimbulkan karhutla.
“Ini masih dugaan awal kita berdasarkan laporan di lapangan. Namun penyebab karhutla ini butuh pendalaman, apakah disengaja atau tidak,” jelasnya.
Situasi semakin mengkhawatirkan, terutama di dua wilayah yakni Kabupaten Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), di Kabupaten Solok karhutla terjadi di seluruh kecamatan. Sedangkan di Limapuluh Kota, 10 dari 13 kecamatan terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Dishut Sumbar pun mendorong aparat dan kepala daerah setempat untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Ini bisa dikoordinasikan dengan aparat penegak hukum untuk memproses kasus ini,” tegas Ferdinal.
Sementara itu, Juru Bicara BPBD Sumbar Ilham Wahab menambahkan, penyebab karhutla belum bisa dipastikan. Namun kemarau panjang yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir diyakini memperburuk kondisi.
“Kita tidak bisa menyampaikan apakah ini sengaja dibakar atau tidak karena butuh penyelidikan,” ujar Ilham.
Berdasarkan data BMKG, potensi karhutla diperkirakan masih tinggi hingga Agustus 2025. Oleh karena itu, pemerintah daerah diimbau meningkatkan patroli dan pemantauan di wilayah rawan serta memperkuat koordinasi dengan masyarakat dan aparat penegak hukum guna mencegah kejadian serupa. (Antara)
Berita Terkait
-
Inpres Larangan Bakar Hutan Segera Terbit, Pemerintah Diminta Libatkan Masyarakat Adat
-
Karhutla di Berau Kepung Pusat Rehabilitasi, 18 Orang Utan Kini Dalam Bahaya
-
Gunung Merapi Ungup-ungup Terbakar, Api Mendekati Jalur Kawah Ijen
-
Karhutla Indonesia: 22 Kasus Masuk Tahap Penyelidikan
-
Puan Soroti Respons Lambat Karhutla: Makin Lama Dipadamkan, Makin Mahal Biayanya!
Terpopuler
- Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
- 8 Sepatu Jalan untuk Komuter KRL dan MRT yang Empuk dan Awet
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Salah Pilih Klub? Pemerintah Serang Rayo Vallecano: Klub Gak Mampu
- Perbedaan Sunscreen Sejuta Umat Azarine vs Facetology, Bagus Mana?
Pilihan
-
Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar
-
Api Masih Merah! 105 Personel Cari Korban Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang yang Terjebak
-
Kebakaran Melanda Apartemen Pavilion Tanah Abang, Petugas Sisir Penghuni Terjebak
-
Privilese TNI dari Suku Dayak Diduga Cara Rezim Amankan Ekspansi Bisnis Hutan
-
Sudah dari 2023, 'Nyelang' Jadi Napas Warga Pesisir Cilincing Demi Dapatkan Air Bersih
Terkini
-
Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Siapkan Ragam Promo Menarik
-
Minuman Manis Tak Langsung Bikin Gagal Ginjal, Tapi Kebiasaan Ini Bisa Jadi Risikonya
-
Ekonomi Kerakyatan Terus Digerakkan, BRI Kantongi Laba Rp31,2 Triliun
-
Jangan Asal Ngomong! 6 Kata Kasar Bahasa Minang yang Perlu Diketahui
-
BRI Hadirkan Semarak Merah Putih di Desa BRILiaN Balbar Sofifi, UMKM Turut Rasakan Manfaatnya