- Djamari Chaniago geram pemberian gelar datuk ke pejabat sembarangan.
- Kisah penolakan gelar datuk diungkap Djamari di Sespim Polri.
- Djamari soroti kesalahan pemberian gelar datuk terkait kasus Teddy.
"Saya berjuang setengah mati demi kepentingan bangsa, tapi dia yang menghancurkan negeri. Berbeda sangat. Saya katakan itu kepada dia," ucapnya.
Selain itu, Djamari juga mengaku pernah menyampaikan kekesalannya kepada dosen dan guru besar Universitas Andalas (Unand) terkait pemberian gelar datuk yang dinilainya dilakukan secara sembarangan.
"Saya katakan semuanya. Jangan merasa tidak bersalah dengan kejadian kemarin itu (Teddy). Kalian juga salah, kenapa kalian diam saja melihat itu. Nah, saya ingin menggambarkan bahwa sekecil apapun terlibat di masyarakat kita harus peduli," pungkasnya.
Rekam Jejak Djamari Chaniago
Djamari Chaniago merupakan tokoh militer Indonesia yang lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 8 April 1949. Ia merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1971 dari kecabangan Infanteri Baret Hijau Kostrad. Pangkat terakhirnya adalah Jenderal TNI.
Dalam perjalanan karier militernya, Djamari pernah menempati sejumlah jabatan strategis, di antaranya:
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) III/Siliwangi (1997–1998)
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) (1998–1999)
Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (1999–2000)
Kepala Staf Umum TNI (2000–2004)
Kontributor: Saptra S