Tiga Siklus Kesiapsiagaan Bencana Versi BNPB, Ini yang Harus Diketahui Sebelum Bencana Datang!

Mitigasi bencana BNPB menjadi sorotan utama dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi potensi bencana alam.

Riki Chandra
Jum'at, 02 Januari 2026 | 17:30 WIB
Tiga Siklus Kesiapsiagaan Bencana Versi BNPB, Ini yang Harus Diketahui Sebelum Bencana Datang!
Jalan amblas diterjang longsor di Pagadih, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. [Dok. Antara]
Baca 10 detik
  •  BNPB tekankan tiga aspek kesiapsiagaan penting dalam mitigasi bencana daerah.

  • Indonesia rawan bencana karena berada di kawasan cincin api Pasifik.

  • Pemerintah fokus pemulihan dan pelayanan penyintas pascabencana besar.

SuaraSumbar.id - Mitigasi bencana BNPB menjadi sorotan utama dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi potensi bencana alam.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, menegaskan pentingnya pemahaman bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menyiapkan langkah-langkah antisipasi yang terstruktur dan berkelanjutan.

Dalam keterangannya di Padang, Jumat, Rustian menyampaikan bahwa mitigasi bencana BNPB tidak dapat dilepaskan dari tiga aspek kesiapsiagaan yang harus dipahami secara menyeluruh.

"Pertama, kita harus menyiapkan kesiapsiagaan di prabencana, kedua ketika terjadi bencana dan pascabencana itu terjadi," kata Sekretaris Utama BNPB, Rustian, Jumat (2/1/2026).

Ia menjelaskan, ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan harus dijalankan secara simultan. Mitigasi bencana BNPB pada tahap prabencana mencakup upaya perencanaan, edukasi, dan penguatan kapasitas daerah agar risiko dapat ditekan sebelum bencana terjadi.

Sementara itu, saat bencana berlangsung, respons cepat dan terkoordinasi menjadi kunci utama untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian.

Rustian menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana sangat krusial mengingat seluruh provinsi di Indonesia memiliki potensi bencana alam. Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api Pasifik atau ring of fire menjadikan ancaman gempa bumi, letusan gunung api, hingga bencana hidrometeorologi sebagai risiko yang selalu mengintai.

"Di tiga siklus bencana ini semua komponen masyarakat harus tahu dan paham karena bencana alam tidak bisa diprediksi dan mematikan," kata Rustian.

Sebagai gambaran nyata, saat ini pemerintah tengah melakukan pemulihan dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Di Ranah Minang, Rustian menyebut sejak awal pihaknya bersama Gubernur setempat telah membahas berbagai kebutuhan penting agar dampak bencana dapat diminimalisir melalui pendekatan mitigasi bencana BNPB yang terencana.

Pada kesempatan yang sama, Rustian mengungkapkan bahwa bencana di tiga provinsi tersebut menelan korban jiwa lebih dari 1.000 orang, dengan sejumlah korban masih belum ditemukan.

Di Provinsi Sumatera Barat, pemerintah bersama keluarga korban telah mengikhlaskan untuk tidak melanjutkan pencarian dan evakuasi korban yang belum ditemukan.

Ke depan, selain fokus pada pemulihan, pemerintah terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi para penyintas banjir bandang dan tanah longsor di wilayah terdampak. BNPB juga mengapresiasi kinerja pemerintah provinsi dan daerah dalam penanganan bencana.

"Dari 15 kabupaten kota yang terdampak bencana 13 di antaranya menetapkan status tanggap darurat dan syukur alhamdulillah 12 sudah masuk transisi darurat," sebut dia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan mitigasi bencana BNPB agar daerah semakin siap menghadapi ancaman serupa di masa mendatang. (Antara)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak