Nilai positif santet, secara nyata menurut Izza dkk, dibuktikan dalam penggunaannya pada aktivitas keseharian masyarakat Madura untuk menangkap ikan, memanggil hujan, menyembuhkan sakit, dan sebagainya.
Bentuk-bentuk praktik tersebut merupakan bentuk santet yang bermanfaat bagi pelaku dan lingkungan di sekitarnya tanpa merusak dan melukai siapapun. Nilai positif santet ini hidup karena adanya piranti santet yang positif (mantra, dukun dan perlengkapan sajian).
“Seperti tersebut di atas bahwa santet memiliki konsep nilai positif dan negatif. Akibat perlakuan yang tidak sebagaimana mestinya santet menjadi disalahgunakan,” ucap Izza.
Tim PKM-RSH UGM pun mencoba mengangkat kembali konsep nilai positif santet, yang sudah mengalami pergeseran dan marginalisasi di era modern sekarang ini. Menurutnya, rekontekstualisasi nilai-nilai santet perlu dilakukan untuk menyelaraskan konsep santet dulu dengan sekarang serta membebaskan santet dalam ruang nalar yang salah akibat marginalisasi dan politisasi ideologi yang berkepentingan.
Baca Juga:Tim UGM Teliti Santet, Fakta-fakta Ini Langsung Terungkap!
Santet, lanjutnya, juga patut dipandang sebagai kekayaan intelektual bangsa yang perlu dipahami dengan arif dan bijaksana, sehingga tidak ada lagi marginalisasi antarbudaya.