alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pengamat Sebut Bahasa Arab Ciri Teroris, Imam Masjid New York: Tidak Bermutu dan Memalukan

Riki Chandra Kamis, 09 September 2021 | 19:17 WIB

Pengamat Sebut Bahasa Arab Ciri Teroris, Imam Masjid New York: Tidak Bermutu dan Memalukan
Muhammad Syamsi Ali atau Imam Shamsi Ali. (dok pribadi)

Imam Masjid New York, Shamsi Ali, ikut memprotes pernyataan pengamat intelijen perempuan Indonesia, Susaningtyas Kertopati.

SuaraSumbar.id - Imam Masjid New York, Shamsi Ali, ikut memprotes pernyataan pengamat intelijen perempuan Indonesia, Susaningtyas Kertopati yang menyebut salah satu ciri radikal dan teroris adalah menggunakan Bahasa Arab.

Menurut Shamsi, pernyataan tersebut sangat memalukan dan kelasnya anak jalanan. Dia mengaku heran kenapa Bahasa Arab sebagai salah satu parameter radikal dan teroris.

“Saya malu dengan cara pandang seorang yang disebut “pengamat. Tapi cara melihat masalah tak lebih dari anak jalanan. Sempit, pendek, tidak bermutu bahkan memalukan,” kicau Shamsi Ali, dikutip dari Hops.id - jaringan Suara.com, Kamis (9/9/2021).

Shamsi pun bertanya-tanya benarkah indikator radikalisme ukurannya itu adalah foto dan hapalan nama-nama tersebut di atas.

Baca Juga: Tak Hafal Nama Parpol Dianggap Radikal, MUI: Kacau Logikanya, Penyesat!

Setelah pernyataan ini menjadi ramai dan diprotes, Susaningtyas mengklarifikasi maksud pernyataannya dalam webinar beberapa waktu lalu. Dia merasa penyatannya disalahartikan dan media mengutipnya tidak lengkap dengan konteksnya.

Susaningtyas sebagai muslim tentunya menjunjung tinggi keyakinan dalam Islam, dia juga ngaku sangat respek dengan bahasa tersebut.

Dia menegaskan, ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita bahasa Indonesia.

“Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya,” kata Nuning dalam klarifikasinya dikutip dari Republika.

Pengamata ini juga membantah menuduh Islam sebagai embrio terorisme. Susaningtyas mengatakan temuan memang menunjukkan embrio terorisme itu tumbuhnya diawali dari dunia pendidikan kok, namun dia tidak mengatakan terorisme itu muncul dari lembaga pendidikan muslim.

Baca Juga: Soal Bahasa Arab dan Teroris, Susaningtyas Klarifikasi: Mohon Maaf Bila...

Sebab masih ada kok lembaga pendidikan Islam yang menjalankan aturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait