Trauma Masa Kecil Bisa Bikin Gangguan Mental, Begini Penjelasannya

Pastikan anak Anda tak mengalami peristiwa yang bisa memicu trauma.

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Kamis, 11 Februari 2021 | 14:26 WIB
Trauma Masa Kecil Bisa Bikin Gangguan Mental, Begini Penjelasannya
Ilustrasi depresi (shutterstock)

SuaraSumbar.id - Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Alberta, Kanada dan terbit di jurnal Psychiatry and Neuroscience, meyebutkan bahwa peristiwa traumatis atau stres di masa kanak-kanak bisa menimbulkan efek jangka panjang.

Pengalaman buruk tersebut dapat menyebabkan adanya perubahan kecil dalam struktur otak utama anak-anak, yang sekarang dapat diidentifikasi beberapa tahun kemudian.

Dilansir Neuroscience News, ini adalah riset pertama yang bisa menunjukkan adanya trauma selama tahun-tahun awal seorang anak yang bisa memicu perubahan pada subregional spesifik dari amigdala dan hipokampus.

Amigdala merupakan bagian otak yang berperan dalam pengolahan dan ingatan terhadap emosi. Sedangkan hipokampus adalah bagian otak yang dapat menyimpan memori jangka panjang.

Baca Juga:Diacungi Golok oleh Begal, Teh Nia Trauma dan Takut Lihat Pria Bermasker

Setelah terjadi perubahan, peneliti percaya bahwa dua daerah otak yang terkena itu bisa menjadi tidak berfungsi secara optimal.

Ilustrasi penganiayaan, penelantaran anak, bocah dirantai. (Shutterstock)
Ilustrasi penganiayaan pada anak-anak (Shutterstock)

Itu berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental saat dewasa selama stres.

"Sekarang, kami bisa mulai memfokuskan diri pada bagaimana mengurangi atau bahkan, berpeluang membalikkan perubahan ini," kata salah seorang peneliti Peter Silverstone, ketua sementara Departemen Psikiatri di Universitas Alberta, Kanada.

Ia menambahkan, studi ini menjelaskan bagaimana pengobatan seperti psikedelik bekerja pada penderita gengguan mental.

"Karena ada banyak bukti bahwa obat ini dapat meningkatkan pertumbuhan kembali saraf di area ini," sambungnya.

Baca Juga:Trauma Gempa, Kucing di Majene Muntah-muntah dan Diare

"Memahami perubahan struktural dan neurokimia otak tertentu yang mendasari gangguan kesehatan mental adalah langkah penting untuk mengembangkan pengobatan baru yang potensial," lanjutnya.

Sebanyak 35 peserta dengan gangguan depresi mayor direkrut untuk penelitian ini, termasuk 12 laki-laki dan 23 perempuan pramenopause berusia 18 sampai 49 tahun.

Peneliti juga merekrut 35 subjek kontrol yang sehat, termasuk 12 laki-laki dan 23 perempuan yang disesuaikan dengan usia, jenis kelamin dan pendidikan.

Dengan demikian, pastikan si kecil bebas dari rasa trauma ya, Bun!

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini