- Wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat perlu mengenali enam kosakata kasar dalam bahasa Minang agar tidak menyinggung warga lokal.
- Kosakata seperti pakak, damam, anjiang, baruak, binalu, dan pantek dapat berubah menjadi umpatan penghinaan jika salah konteks.
- Pemahaman yang baik mengenai norma kesopanan dan budaya lokal membantu pendatang menghindari kesalahan ucapan saat berkomunikasi.
SuaraSumbar.id - Sumatera Barat atau yang akrab disebut Ranah Minang menjadi salah satu daerah yang menarik untuk dikunjungi. Keindahan alam, budaya Minangkabau, hingga kuliner khas seperti rendang membuat wilayah ini selalu punya daya tarik bagi wisatawan.
Namun, ada satu hal yang juga penting diketahui sebelum berkunjung, yaitu bahasa dan etika berkomunikasi dengan masyarakat lokal.
Pasalnya, beberapa kata dalam bahasa Minang memiliki makna yang tergolong kasar jika ditujukan kepada seseorang. Bahkan, sejumlah kata mungkin terdengar biasa bagi orang yang tidak memahami bahasa Minangkabau, tetapi ternyata memiliki arti yang cukup sensitif.
Mengetahui kosakata tersebut bukan berarti untuk digunakan saat berbicara. Justru sebaliknya, pengetahuan ini dapat membantu wisatawan agar tidak salah ucap dan menyinggung masyarakat setempat.
Berikut sejumlah kata kasar bahasa Minang yang perlu diketahui.
1. Pakak
Kata pakak merupakan salah satu ungkapan kasar dalam bahasa Minang. Secara harfiah, kata ini berkaitan dengan kondisi tuli. Namun, ketika digunakan sebagai umpatan kepada seseorang, maknanya menjadi sebuah penghinaan.
Karena itu, sebaiknya tidak sembarangan menggunakan kata pakak ketika berbincang dengan masyarakat Minang, terutama jika belum memahami konteks percakapannya.
2. Damam
Dalam arti umum, damam berkaitan dengan kondisi demam atau sakit. Akan tetapi, dalam penggunaan sebagai umpatan, kata ini dapat digunakan untuk menghina atau merendahkan seseorang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah kata tidak selalu memiliki makna yang sama ketika digunakan dalam konteks berbeda.
3. Anjiang
Nama hewan juga dapat digunakan sebagai bentuk umpatan dalam bahasa Minang. Salah satunya adalah anjiang, yang berarti anjing.
Dalam percakapan biasa, kata tersebut tentu dapat digunakan ketika seseorang memang sedang membicarakan hewan. Namun, jika ditujukan kepada seseorang dalam konteks kemarahan atau penghinaan, maknanya berubah menjadi kata makian. Jadi, jangan karena terdengar unik kemudian ikut-ikutan mengucapkannya.
4. Baruak
Berita Terkait
-
Gubernur Bobby Nasution Siap Jadi Ayah Asuh Guna Percepatan Legalitas Aset Wakaf
-
Babe Haikal Apresiasi Langkah Bobby Nasution Majukan Industri Halal Bagi UMKM Sumut
-
Bobby Nasution Resmikan BRT Mebidang, Dorong Integrasi Transportasi Publik Mebidang
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Bobby Nasution Jenguk Murid Korban Keracunan MBG Karo di RS Haji, Pastikan Penanganan hingga Pulih
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Jangan Asal Ngomong! 6 Kata Kasar Bahasa Minang yang Perlu Diketahui
-
BRI Hadirkan Semarak Merah Putih di Desa BRILiaN Balbar Sofifi, UMKM Turut Rasakan Manfaatnya
-
Warga Agam Temukan Tengkorak-Tulang Manusia di Sawah, Diduga Korban Bencana
-
Sumbar Kirim 2,1 Ton Rendang ke NTT
-
Kisah Haru PMI Yuni, BRI Pertemukan dengan Ibunya Setelah 10 Tahun Bekerja di Taiwan