Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:24 WIB
Ilustrasi anak SD menjadi korban perundungan. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Siswi SD Negeri 33 Rawang bernama NH meninggal dunia pada Jumat, 24 Juli 2026, akibat cedera dalam.
  • Keluarga meyakini korban meninggal karena pergeseran tulang pinggang akibat perundungan berulang oleh siswa di sekolah.
  • Pihak sekolah dan Disdikbud Kota Padang menyatakan belum menemukan bukti kuat terkait adanya dugaan perundungan tersebut.

SuaraSumbar.id - Tangis tak lagi mampu dibendung Wahid Al Amin setiap kali mengingat putrinya. NH, bocah perempuan berusia 10 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SD Negeri 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, telah pergi untuk selamanya pada Jumat 24 Juli 2026.

Di balik kepergiannya, keluarga meyakini ada kisah pilu yang selama ini dipendam sang anak: dugaan perundungan yang disebut telah berlangsung sejak ia masih duduk di kelas 1 SD.

Bagi keluarga, kematian NH bukan sekadar karena sakit. Mereka percaya ada rangkaian peristiwa yang berujung pada cedera serius hingga merenggut nyawa bocah tersebut. 

Namun di sisi lain, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang menyatakan hingga kini belum menemukan bukti yang menguatkan adanya aksi perundungan. 

Menurut penuturan Wahid, perubahan pada diri putrinya mulai terlihat sesaat setelah pulang dari sekolah. NH yang biasanya ceria mendadak menjadi pendiam. Wajahnya tampak murung, bahkan terlihat ketakutan.

"Setelah pulang sekolah, anak kami terlihat murung dan seperti ketakutan. Sore harinya kondisinya semakin berbeda. Kami sempat memberikan obat, tetapi keadaannya justru semakin memburuk," ujar Wahid pada Sabtu (25/7/2026)

Keesokan harinya, NH mengeluhkan sakit hebat di bagian pinggang. Kondisinya membuat keluarga memutuskan tidak mengizinkannya berangkat ke sekolah. Namun rasa sakit yang dialaminya justru semakin parah.

Pada Rabu, NH mengalami demam tinggi. Rasa nyeri di bagian pinggang disebut semakin hebat hingga tubuhnya sulit digerakkan. Keluarga bahkan sempat kesulitan membawanya ke rumah sakit karena setiap kali dipindahkan, bocah itu terus merintih kesakitan.

Saat akhirnya mendapatkan penanganan medis secara intensif, dokter tidak menemukan adanya luka memar ataupun bekas benturan pada bagian luar tubuh korban. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan adanya cedera serius pada bagian dalam tubuh.

Baca Juga: Semen Padang FC Wajib Menang Lawan PSIM, Malam Ini Laga Hidup Mati Kabau Sirah

Menurut keluarga, hasil pemeriksaan medis mengungkap adanya pergeseran tulang pada area pinggang yang diduga berkaitan dengan benturan keras.

Wahid meyakini cedera tersebut terjadi setelah anaknya diduga didorong oleh seorang siswa di lingkungan sekolah hingga bagian pinggangnya membentur lantai atau konstruksi beton.

Yang membuat keluarga semakin terpukul, dugaan tindakan kekerasan itu disebut bukan pertama kali dialami NH.

Wahid mengaku putrinya telah menjadi korban perundungan secara berulang sejak duduk di kelas 1 SD hingga kelas 3. Ia menduga pelakunya merupakan siswa yang sama.

Merasa anaknya terus menjadi sasaran, Wahid mengaku beberapa kali mendatangi sekolah untuk meminta perlindungan. Bahkan ia sempat bersitegang dengan kepala sekolah agar persoalan tersebut ditangani secara serius.

"Saya sempat bersitegang dengan kepala sekolah soal tindakan perundungan yang dialami anak kami. Saat itu, pihak sekolah berjanji persoalan ini akan diselesaikan karena masih merupakan urusan internal sekolah," ungkapnya.

Load More