- Dokter spesialis saraf dr. Ramdinal Aviesena Zairinal menyatakan konsumsi kafein berlebihan atau tidak tepat dapat memicu penyakit migrain.
- Lonjakan dosis konsumsi kafein harian yang meningkat secara signifikan berisiko mengubah manfaat kafein menjadi penyebab sakit kepala.
- Pola konsumsi kafein yang tidak konsisten atau penghentian secara mendadak dapat menyebabkan gejala sakit kepala akibat efek withdrawal.
SuaraSumbar.id - Secangkir kopi bagi banyak orang menjadi bagian penting untuk memulai hari. Kandungan kafein dalam kopi sering dianggap membantu meningkatkan fokus, bahkan dipercaya mampu meredakan sakit kepala ringan.
Namun dibalik manfaat tersebut, konsumsi kafein yang tidak tepat ternyata dapat memicu masalah kesehatan, salah satunya migrain.
Menurut dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari RSUI dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K) kafein memiliki dua sisi, yakni bisa menjadi obat yang dikonsumsi untuk meredakan.
Namun jika tidak dikonsumsi dengan baik maka akan berbalik efeknya menjadi pemicu sakit kepala tersebut.
"Itulah yang harus dipahami. Harusnya dia (kafein) positif, tapi kenapa jadi yang hal yang negatif Itu karena ada perubahan dari cara kita mengonsumsi kafeinnya," katanya melansir Antara, Minggu, 21 Juni 2026.
Perubahan dosis atau jumlah kandungan maupun pola dalam mengonsumsi minuman yang mengandung kafein berisiko memicu migrain.
Dalam hal ini, kafein dapat terkandung dalam minuman seperti kopi, minuman kaleng seperti soda, hingga obat-obatan tertentu.
Ia mencontohkan bahwa seseorang yang awalnya hanya mengonsumsi satu hingga dua cangkir kopi sehari, lalu meningkat menjadi empat atau lima cangkir, berarti mengalami lonjakan dosis kafein.
Pada kondisi tersebut, dosis yang meningkat itu pada satu titik bisa mengubah cara kerja kafeinnya, harusnya membantu meredakan namun malah berbalik menyebabkan makin parah sakit kepalanya.
Baca Juga: Jangan Sepelekan! Konsumsi Obat Pereda Nyeri Berlebihan Bisa Picu Sakit Kepala Berulang
Hal serupa juga dapat terjadi jika pola mengonsumsi kafein yang tidak konsisten, misalnya seseorang biasa mengonsumsi kopi setiap pagi hari lalu besoknya berubah-ubah menjadi siang atau malam itu juga bisa pengaruh, atau tiba-tiba berhenti setelah rutin mengonsumsi dapat menyebabkan sakit kepala.
"Perubahan seperti itu yang tadinya banyak kopinya terus tiba-tiba mendadak maka itu pun juga bisa menyebabkan gejala sakit kepalanya akibat withdrawal atau berhenti yang mendadak dari si kafein tersebut. Jadi yang salah tuh bukan si kafeinnya tapi bagaimana kita menggunakannya," katanya.
Berita Terkait
-
Maudy Ayunda Minta Maaf, Bukti Nasihat Kesehatan Mental Tak Selalu Bisa Dipukul Rata
-
Cara Mengembalikan Jam Tidur Normal untuk Orang Dewasa yang Sering Begadang
-
Kasus Influenza A Meningkat, Apa Bedanya dengan Flu Biasa? Kenali Gejalanya
-
Media Asing: Karhutla Bikin Kas Indonesia Jebol Rp123,1 Triliun, Rp93,56 T Habis untuk Ini
-
Tren Kopi Susu dan FOMO Gen Z: Waspada Jebakan Gula di Balik Kedok Nongkrong
Terpopuler
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Erin Taulany Klarifikasi Soal Komentar Hamil Duluan: Sumpah Demi Allah Akun Saya Dibajak
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
Pilihan
-
Tangis Ibrahim al-Madani Saat Pertama Azan di Masjidil Haram, Sang Muazin Tutup Usia di 51 Tahun
-
Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026
-
KPK OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena
-
KPK Geledah Rumah Mewah Polisi Yayat Sudrajat di Depok, Terkait Kasus Suap Bekasi
-
Silmy Karim Kritik KPK! Bandingkan Nasibnya dengan Nusron Wahid
Terkini
-
4 Polisi di Solok Selatan Dipecat
-
Banjir Bandang di Solok, 4 Warga Terluka, 9 Keluarga Mengungsi
-
Serunya Berburu Karya Lokal di BRIZZI ARKIV Blok M Hub
-
Sidang Yogi Gilang Arya: Internet Jadi Kasus Hukum Justru Dipakai Polres Mentawai
-
BRI Dorong Akses Hunian, Perkuat Sinergi Ekosistem Perumahan di Jakarta