- Ekspor CPO Sumatera Barat melalui Pelabuhan Teluk Bayur melonjak hingga 875.559 ton pada Maret 2026 dibandingkan periode sebelumnya.
- Konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga komoditas sehingga pengusaha meningkatkan pengiriman CPO ke India dan Pakistan.
- Nilai total ekspor Sumatera Barat pada awal tahun 2026 mencapai Rp10,4 triliun dengan peningkatan sebesar 42,94 persen.
SuaraSumbar.id - Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah ternyata membawa dampak tidak terduga bagi perdagangan komoditas Indonesia.
Di tengah ketegangan global yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Sumatera Barat justru melonjak.
"Justru dengan adanya konflik global dan situasi global, itu berdampak kepada kenaikan harga CPO," kata Branch Manager PTP nonpetikemas cabang Teluk Bayur Fauzi, melansir Antara, Kamis, 16 April 2026.
Menurut data dari PTP nonpetikemas cabang Teluk Bayur, total ekspor CPO hingga Maret 2026 mencapai 875.559 ton. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya 648.606 ton.
"Jadi ada kenaikan CPO yang dikirimkan ke India dan Pakistan," ujarnya.
Sejak perang terjadi di kawasan Timur Tengah ia membenarkan para pengusaha minyak kelapa sawit mentah justru berlomba-lomba mengekspor salah satu komoditas unggulan asal Sumbar tersebut.
Bahkan, minyak kelapa sawit mentah menjadi komoditas unggulan ekspor yang dikirim ke sejumlah negara Asia Selatan lewat PTP nonpetikemas cabang Teluk Bayur, Kota Padang khususnya pada 2025 dengan total 3.151.458 ton.
Secara umum Fauzi mengatakan konflik di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya Israel, tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas bongkar muat, atau ekspor dan impor di pelabuhan setempat.
Tambahan informasi, merujuk data Badan Pusat Statistik Sumbar, nilai ekspor provinsi setempat pada Januari–Februari 2026 sebesar Rp10,4 triliun. Nilai itu naik 42,94 persen jika dibandingkan periode yang sama 2025.
Sementara, nilai ekspor Februari 2026 tercatat mencapai Rp5 triliun lebih, atau naik 8,54 persen bila dibandingkan secara year on year Februari 2025. Pada Januari-Februari 2026 India dan Pakistan masih menjadi negara tujuan dengan nilai ekspor terbesar dengan kontribusi masing-masing Rp3 triliun dan Rp2 triliun lebih.
Berita Terkait
-
Pemerintah Perlu Terapkan 5 Langkah untuk Atasi Transfer Pricing dan Underinvoicing CPO
-
Harga Minyak Kembali Naik di Tengah Ancaman Krisis Pasokan Akibat Konflik Timur Tengah
-
Gegara Konflik Timur Tengah, Harga Mayones Naik 10%
-
Minyak Brent Tembus 101,84 Dolar AS per Barel akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah
-
Mangkrak 10 Tahun, Stadion Utama Sumbar Kini Kembali Bergeliat
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
Ingin Pensiun Nyaman? Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo
-
45 Kuda Raih Podium di IHR Merdeka Cup 2026, Disaksikan 18.000 Pengunjung
-
Inilah Cerita Tentang Dewi Natalia, Mantri BRI yang 15 Tahun Lawan Rentenir dan Dukung Pedagang
-
5 Tahun Holding Ultra Mikro, Perkuat Ekosistem UMKM
-
Raih Penghargaan, BRI Dorong Transformasi Digital Lewat BRImo Taiwan