Riki Chandra
Kamis, 05 Februari 2026 | 16:14 WIB
Gunung Marapi di Sumbar. [Dok. Antara]
Baca 10 detik
  •  Gunung Marapi erupsi 25 detik, kolom abu tertutup awan tebal.

  • Status Gunung Marapi masih Level II Waspada PVMBG.

  • Warga diminta waspadai lahar hujan dan hujan abu.

SuaraSumbar.id - Gunung Marapi di Sumatera Barat (Sumbar) kembali erupsi Kamis (5/2/2026) siang. Gunung api aktif ini berada di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.

Petugas Pos Gunung Api (PGA) Gunung Marapi, Teguh Firmansyah, menyampaikan bahwa Gunung Marapi erupsi pada pukul 11.27 WIB. Aktivitas ini terekam jelas melalui peralatan pemantauan seismik yang terpasang di sekitar gunung.

“Terjadi erupsi Gunung Marapi pukul 11.27 WIB dengan durasi sekitar 25 detik dan amplitudo maksimum 25,9 milimeter,” kata Teguh.

Berdasarkan laporan PGA, tinggi kolom abu dari peristiwa Gunung Marapi erupsi tersebut tidak dapat teramati secara visual. Hal ini disebabkan kondisi puncak gunung yang tertutup awan tebal saat kejadian berlangsung.

Gunung Marapi sendiri memiliki ketinggian sekitar 2.891 meter di atas permukaan laut (MDPL) dan termasuk salah satu gunung api paling aktif di Sumatera Barat.

Meski kolom abu tidak terlihat, PGA tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Salah satu potensi bahaya yang perlu diantisipasi adalah ancaman banjir lahar dingin, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi. Ancaman ini dinilai meningkat saat curah hujan tinggi.

Saat ini, status aktivitas Gunung Marapi berada pada Level II atau Waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting terkait kondisi tersebut.

Masyarakat, pendaki, serta pengunjung diminta untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi, yakni Kawah Verbeek.

PVMBG juga mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar lembah, aliran, dan bantaran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Marapi agar selalu siaga terhadap potensi banjir lahar hujan. Kondisi cuaca yang berubah cepat dapat memicu aliran material vulkanik ke wilayah pemukiman.

Selain itu, jika terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat diminta menggunakan masker penutup hidung dan mulut. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dengan status waspada yang masih berlaku, Gunung Marapi erupsi menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi resmi pihak berwenang. (Antara)

Load More