Riki Chandra
Kamis, 29 Januari 2026 | 11:12 WIB
Ikan mati massal di Maninjau. [Dok. Istimewa]
Baca 10 detik
  •  Angin kencang picu ikan mati massal, petani Danau Maninjau merugi.

  • Puluhan ton ikan nila siap panen mati mendadak di keramba.

  • Kerugian petani capai Rp600 juta, kematian ikan berulang sejak 2025.

"Harga cukup bagus sekitar Rp30 ribu per kilogram dan sebelumnya hanya Rp25 ribu per kilogram," katanya.

Harga ikan nila yang sedang tinggi membuat nilai kerugian semakin besar. Ikan-ikan yang mati merupakan ikan siap panen yang seharusnya bisa dijual dalam waktu dekat.

4. Kematian Ikan Terjadi Berulang Sejak 2025

Menurut Resky, kejadian ikan mati massal Danau Maninjau kali ini merupakan yang ketiga sejak banjir bandang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025.

"Ini kematian yang ketiga kalinya semenjak banjir bandang melanda daerah itu pada akhir November 2025," katanya.

Kematian ikan yang berulang ini menunjukkan kondisi perairan Danau Maninjau masih rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Setiap kali angin kencang atau gangguan lingkungan terjadi, petani kembali menghadapi risiko kematian ikan dalam jumlah besar.

5. Pemerintah Lakukan Pendataan dan Imbauan ke Petani

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Rosva Deswira, mengatakan pihaknya tengah melakukan pendataan total ikan milik petani yang mati akibat ikan mati massal Danau Maninjau.

"Penyuluhan perikanan telah turun untuk mendata kematian ikan keramba jaring apung," katanya.

Ia menjelaskan, penyebab utama kematian ikan adalah berkurangnya oksigen terlarut di dalam danau setelah angin kencang melanda daerah tersebut. Untuk itu, petani diimbau melakukan panen dini, memindahkan bibit ikan ke kolam air tenang, serta langkah lain guna meminimalisir kerugian.

"Kita hampir setiap tahun memberikan surat imbauan kepada petani keramba jaring apung dalam meminimalisir kerugian," katanya.

Load More