-
BMKG sebut cuaca panas Sumbar akibat dinamika atmosfer.
-
Tekanan rendah di utara sebabkan minim pertumbuhan awan.
-
Suhu tertinggi 32 derajat, bukan kategori panas ekstrem.
SuaraSumbar.id - Cuaca panas yang melanda Sumatera Barat (Sumbar) dalam beberapa hari terakhir ternyata bukan tanpa sebab. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena ini terjadi akibat dinamika atmosfer, bukan karena gelombang panas ekstrem seperti yang dikhawatirkan sebagian masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh adanya siklon tropis atau tekanan rendah yang terbentuk di sekitar Laut China Selatan.
Tekanan rendah ini menyebabkan konsentrasi awan lebih banyak terkumpul di wilayah utara, sementara pertumbuhan awan di Sumbar menjadi sangat kecil.
“Dengan sedikitnya tutupan awan, intensitas sinar matahari yang diterima permukaan bumi di Sumbar menjadi maksimal. Itulah mengapa cuaca terasa lebih panas dari biasanya,” ujarnya, Selasa (4/11/2025).
Meski demikian, BMKG memastikan suhu panas yang terjadi di Sumatera Barat masih dalam batas normal dan belum termasuk kategori ekstrem.
Berdasarkan data pengamatan selama sepekan terakhir, suhu maksimum tercatat mencapai 32 derajat Celcius.
“Jadi, suhu maksimum absolut yang kami catat hanya mencapai 32 derajat, bukan panas ekstrem,” tegas Desindra.
BMKG juga menjelaskan bahwa fenomena dinamika atmosfer ini membuat kondisi cuaca di Sumbar sedikit berbeda dari biasanya. Umumnya, memasuki bulan November wilayah ini sudah mulai diguyur musim hujan. Namun, hingga awal bulan, tanda-tanda hujan belum tampak, dan justru suhu udara meningkat.
Desindra mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kesehatan tubuh di tengah perubahan cuaca ini.
“Perbanyak minum air putih, hindari aktivitas berat di bawah terik matahari, dan waspadai perubahan cuaca mendadak karena setelah panas beberapa hari, hujan bisa saja turun tiba-tiba,” pesannya.
Fenomena cuaca panas ini diperkirakan bersifat sementara. BMKG memprediksi, seiring berakhirnya pengaruh tekanan rendah di utara, potensi awan hujan di wilayah Sumatera Barat akan kembali meningkat dalam waktu dekat. (Antara)
Berita Terkait
-
BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah Aceh
-
Hujan Lebat Disertai Petir Intai Langit Jabodetabek Hari Ini
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Piala Dunia 2026 Bisa Jadi 'Neraka Dunia': Suhu Panas Bisa Tembus 43 Derajat
-
Pesona Air Terjun Lembah Anai, Sambut Wisatawan di Jalur Padang Bukittinggi
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gunung Marapi Erupsi Lagi, Semburkan Abu 500 Meter: PVMBG Peringatkan Ancaman Lahar Dingin Mengintai
-
Tubuh Mungil Penuh Luka: Balita 3 Tahun Dirawat Intensif Usai Dianiaya Ayah Sambung
-
Longsor Maut Tambang Emas Ilegal di Sijunjung: Polisi Buru Pemodal dan Operator
-
Kronologi Longsor Maut Tambang Emas Ilegal Sijunjung: Tebing 30 Meter Tiba-tiba Runtuh
-
9 Orang Tewas Akibat Longsor Tambang Emas Ilegal di Sijunjung