-
Nagari Lasi tetapkan larangan berburu burung di Gunung Marapi.
-
Pelanggar aturan adat didenda emas dan sanksi sosial.
-
BKSDA dan akademisi dukung konservasi berbasis kearifan lokal.
SuaraSumbar.id - Masyarakat adat Nagari Lasi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), resmi memberlakukan aturan adat larangan berburu burung di Gunung Marapi. Kebijakan ini lahir dari keprihatinan warga terhadap semakin langkanya suara burung di kawasan tersebut.
"Ide awalnya adalah sudah lama warga kami tidak lagi setiap saat melihat satwa jenis burung. Kebiasaan lama suara burung bisa menjadi pertanda dan semacam warisan alam, sekarang malah langka," ujar Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lasi, AKBP Jamalul Ihsan Datuak Sati, dikutip dari Antara, Senin (20/10/2025).
Aturan larangan berburu burung di Gunung Marapi ini disepakati oleh 60 Datuak Ninik Mamak yang baru dilantik di Lasi. Mereka juga menegaskan akan menjatuhkan sanksi adat bagi pelanggar.
"Bagi yang melanggar akan didenda satu emas untuk warga luar Lasi. Untuk warga internal, hukumannya berupa perampasan alat berburu dan pemanggilan Datuk," jelas Jamalul.
Jenis burung yang dilarang diburu antara lain murai, bondo, panokek, barabah, tampuo, punai, sikikih, balam, situpang, dan sejumlah jenis lainnya.
Selain itu, masyarakat adat juga menerapkan aturan pelestarian alam, seperti pembatasan penebangan pohon dan kewajiban menanam pohon bagi anak kemenakan yang akan menikah.
Langkah masyarakat adat Nagari Lasi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.
"Ini kegiatan luar biasa dan sejalan dengan program kerja BKSDA bahwa penanganan konservasi ini berada di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Marapi," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 BKSDA, Antonius Vevri.
BKSDA Sumbar bangga karena inisiatif konservasi ini muncul langsung dari masyarakat adat. "Sangat positif sekali, ini merupakan yang pertama di Sumbar. Terima kasih kepada masyarakat Lasi khususnya para tokoh adat," ujarnya.
Akademisi Universitas Negeri Padang, Prof. Indang Dewata, turut mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, kearifan lokal seperti di Nagari Lasi perlu dijadikan contoh bagi daerah lain di Sumatera Barat.
"Sumbar adalah salah satu daerah rawan bencana, hingga perlu penyelesaian dan mitigasi dari kearifan lokalnya. Ide yang muncul dari Lasi ini harus diadopsi," kata Prof. Indang.
Ia menegaskan bahwa konservasi lingkungan tidak bisa berjalan tanpa dukungan masyarakat adat dan pemerintah. “Paga Nagari nantinya akan tampil terdepan dalam pemeliharaan lingkungan di bawah aturan adat yang juga dipertegas dengan regulasi pemerintah,” ujarnya.
Inisiatif larangan berburu burung di Gunung Marapi ini menjadi tonggak penting pelestarian ekosistem di Sumatera Barat sekaligus bukti nyata peran masyarakat adat dalam menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Harimau Sumatera Masuk Permukiman Warga Agam, Usir Pakai Sirene Ambulans
-
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas X SMA Halaman 86, Incaran Siswa yang Bahas Teks Negosiasi
-
5 Tinted Sunscreen Terbaik untuk Kulit Kering hingga Sensitif, Praktis dan Multifungsi
-
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas XI Halaman 101-102, Kebaikan Abang di Cerpen Malaikat Juga Tahu
-
Pembebasan Lahan Berpotensi Perlambat Flyover Sitinjau Lauik, Pemprov Sumbar Didesak Gerak Cepat!