SuaraSumbar.id - Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), terus berupaya meningkatkan kapasitas para petani melalui program Sekolah Lapang (SL) sebagai langkah strategis untuk mencapai pertanian yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Pesisir Selatan, Madrianto mengatakan, keberadaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni sangat penting di tengah tantangan menyusutnya lahan pertanian akibat berbagai faktor.
"Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, sulit bagi kita untuk bersaing di sektor pertanian," ujar Madrianto di Painan, Kamis (10/10/2024).
Program Sekolah Lapang ini telah diterapkan sejak 2021 dan melibatkan ribuan petani dari berbagai sub-sektor, termasuk tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan hortikultura.
Program Sekolah Lapang sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 yang menekankan pada pembangunan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan memandang petani tidak hanya sebagai subjek, tetapi juga sebagai objek pembangunan pertanian, guna memperkuat daya saing di sektor ini.
Sektor pertanian menjadi urat nadi perekonomian daerah, dengan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Pesisir Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian menyumbang 35-40 persen terhadap PDRB daerah setiap tahunnya. Sekolah Lapang dinilai mampu membantu petani menguasai teknologi pertanian yang efektif, sehingga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan keluarga petani, yang mayoritas merupakan kelompok berpenghasilan rendah.
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Lapang di Pesisir Selatan menunjukkan hasil positif, terutama dalam peningkatan produksi padi, jagung, dan komoditas unggulan lainnya. Nilai Tukar Petani (NTP) di seluruh sub-sektor pertanian juga tercatat berada di atas indeks 100, yang menunjukkan kesejahteraan petani terus meningkat.
Selain itu, produksi gabah di Pesisir Selatan berhasil mencatat prestasi, menjadi yang terbesar di Sumatera Barat sejak 2023, mengungguli daerah Solok yang sebelumnya mendominasi produksi gabah di provinsi ini. (antara)
Berita Terkait
-
Mendagri dan Menteri ATR/BPN Terbitkan SEB untuk Perkuat Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
-
Sah! Pemerintah Tarik Kewenangan Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Pusat
-
Mentan Amran Pastikan Pemerintah Tangani Penuh Pemulihan Lahan Pertanian Puso Akibat Bencana
-
Wamentan Sudaryono Pastikan Pemulihan Sawah Terdampak Bencana di 3 Provinsi, Tanah Bisa Diolah Lagi
-
Bencana Banjir Bandang Rusak 65 Ribu Hektar Sawah di Provinsi Aceh
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata