Secara data, Medi belum bisa bicara detail berapa persen biaya logistik yang bisa ditekan pasca merger. Sebab, dalam usia yang masih 2 tahun, belum semua sektor yang langsung rising. Namun, dari banyak pelayanan, semua sudah terlihat nyata.
Optimalisasi Teluk Bayur
Luas pelabuhan Teluk Bayur mencapai 79,3 hektare. Sementara, luas area petikemasnya 8.324 meter dengan produksi per bulannya mencapai 8.000 Twenty Foot Equivalent Unit (TEUs). Semula, pelabuhan yang berdiri sejak 1858 itu hanya melayani angkutan orang. Pelan-pelan bertransformasi jadi pelabuhan ekspor dan impor yang mobilitasnya terus meningkat sejak hadirnya layanan peti kemas.
Wajah Teluk Bayur tak hanya berubah dari pelabuhan kayu menjadi beton. Alat bantu bongkar muatnya makin canggih dan berstandar internasional. Fasilitasnya dilengkapi 4 unit Gantry Luffing Crane (GLC), 3 Rubber Tyred Gantry (RTG), 4 Spreader Telescopic, 6 unit Wheel Loader, 3 Excavator, 3 Reach Stacker, 2 Side Loader, 10 Forklift, 16 Head Truck, 6 Dump Truck, 7 Chassis 45, 9 Chassis 40, 3 Hopper, 6 Bucket dan 1 Grab hingga jembatan timbangan.
Pelabuhan terbesar di Pantai Barat Sumatera itu diutungkan letak geografis. Akses dari Teluk Bayur bisa langsung ke Amerika Serikat (AS), India, Eropa hingga Arab Saudi. Dengan posisi demikian, bukan tidak mungkin kelak Teluk Bayur jadi transhipment port.
"Kalau semuanya terfasilitasi, bisa sajas nanti barang-barang dari AS ke Jepang, disimpan dulu di Teluk Bayur. Ini akan terus kami tata," katanya.
Dari segi ekspor, ada 10 komoditi asal Sumbar yang dikirim berbagai negara melalui pelabuhan Teluk Bayur. Mulai dari CPO, semen, klinker, cangkang sawit, batu bara, pupuk, bungkil, gypsum, karet dan copper slag.
Produksi CPO dari Sumbar di ekspor ke India, Burma, China, Srilanka dan Afrika. Sedangkan cangkang sawit ke Polandia dan Jepang. Kemudian bungkil ke New Zeland dan Australia, karet ke Amerika Serikat, serta batu bara ke Thailand dan Vietnam.
"Nah, bagaimana menjadikan semua CPO ini keluar dari Teluk Bayur. Sekarang kan masih ada yang lewat Balawan hingga Bengkulu. Makanya, secara berangsur dermaga diperbaiki," katanya.
Medi menyebutkan sistem digitalisasi terintegrasi juga telah diterapkan Pelindo dalam pelayanan kepelabuhan. Keluar-masuk kapal termonitor dengan Vessel Management System (VMS), sebuah sistem yang telah dikembangkan sejak 2016 lalu. Kegunaannya tentu saja mempermudah dan mempercepat pengurusan dokumen. Kini, sistem VMS makin cepat dengan biaya yang lebih murah dan transparan.
Tag
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
-
Donald Trump Resmi Umumkan Tarif Baru, Ekonomi Indonesia Terancam Kena Dampak!
Terkini
-
2 Tewas dalam Kecelakaan Maut di Jalan Alternatif Bukittinggi-Payakumbuh saat Lebaran
-
Harunya Lebaran 2025 di Balik Jeruji: Narapidana Lapas Padang Melepas Rindu dengan Keluarga
-
Lebaran Aman dengan BRI: Hindari Penipuan dan Kejahatan Siber
-
BRI Berkontribusi dalam Konservasi Laut Gili Matra Melalui Program Menanam Grow & Green
-
Nikmati Keandalan BRImo: Transaksi Tanpa Hambatan Selama Lebaran 2025