Menurut riset dari Hollaback di 42 kota di seluruh dunia, 71 persen perempuan pernah mengalami street harassment sejak usia puber (11-17 tahun), dan lebih dari 50 persen di antaranya termasuk pelecehan fisik. Namun catcalling dan street harassment sendiri adalah fenomena yang masih jarang sekali diteliti dan dibahas lebih lanjut.
Oleh karena itu, isu ini seringkali masih dianggap remeh, dianggap sebagai sesuatu yang akan dimaklumi, seolah hal ini dianggap wajar sehingga perempuan harus memaklumi perlakuan tersebut.
Street harassment seringkali dikaitkan dengan pemerkosaan. Di sini kita tidak akan berbicara mengenai pemerkosaan yang bisa menjadi satu tulisan berbeda.
Namun ada benang merah yang bisa ditarik dari keduanya, bahwa kerap kali perempuan sendirilah yang disalahkan, karena memakai pakaian yang dianggap “terlalu terbuka” atau “mengundang”.
Padahal sebenarnya, paham bahwa perempuan berhak menerima perlakuan tertentu karena caranya berpakaian dan berpenampilan adalah bagian dari rape culture.
Perlu ditanamkan bahwa, no matter what they choose to wear, they are not asking to be raped!
Sebagian besar laki-laki tidak pernah mendapatkan catcalling oleh perempuan. Mereka yang berjalan di jalanan gang atau tempat ramai dengan muka cemberut tidak akan pernah diminta untuk tersenyum oleh wanita yang dilewatinya.
Laki-laki tidak akan pernah mendapatkan perkataan mengenai tubuhnya atau mendengar apa yang dilakukan seorang perempuan kepadanya tanpa persetujuan lelaki tersebut. Situasi ini mencerminkan, bentuk pelecehan adalah berdasarkan gender.
Beberapa orang menganggap sepele hal ini karena beranggapan, para lelaki hanya mengungkapkan pujian dan tanda bahwa kamu “menarik”, sehingga mendapat perhatian. Perlu ditekankan bahwa komentar yang bernada seksual bukanlah pujian.
Baca Juga: Viral Video Pemudik Angkut Motor Sampai Atap Mobil Penuh, Netizen: Itu Mah Pindahan
Apakah dalam situasi tersebut kamu memiliki alasan dan menginginkannya terjadi? Apakah terdapat persetujuan secara baik, di mana perempuan hanya dianggap objek saja.
Semua orang memiliki hak atas tubuhnya sendiri, yang berarti tak sembarang orang berhak mengomentari tubuh dan penampilan perempuan. Seolah tubuh perempuan di publik hanya untuk dinikmati saja, menjadi milik publik dan bukan milik dirinya sendiri
Stop Telling Women to Smile adalah sebuah pergerakan yang digagas oleh seniman asal New York bernama Tatyana Fazlalizadeh. Untuk melawan pelecehan seksual berdasarkan gender, ia membuat kampanye untuk meningkatkan kesadaran dengan seni sindiran di publik terbuka.
Kontributor : Rizky Islam
Berita Terkait
-
Viral Video Pemudik Angkut Motor Sampai Atap Mobil Penuh, Netizen: Itu Mah Pindahan
-
Bapak Kos Ungkap Perasaan Cinta, Perempuan Ini Sampai Risi Berkali-kali Diganggu
-
Setelah Viral, Begini Nasib Pengamen Gondrong yang Ditantang Bapak-bapak Nyanyi 150 Lagu
-
Gara-gara Petunjuk Jalan Kurang Jelas, Emak-emak Kesasar di Flyover Cikampek, Netizen: Ganjil Genap Aturan Meresahkan
-
Video Viral Petugas Kebersihan Hotel Bengong Lihat Kondisi Kamar, Publik: Fix Habis Hardcore
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
Terkini
-
PELOPOR 2026, BRI dan KPK Cetak Agen Perubahan Antikorupsi
-
BRI Dukung MotoGP Indonesia 2026, Perkuat Potensi Sport Tourism di Panggung Dunia
-
BRI Perkuat Dukungan untuk Kontingen Indonesia di Asian Games AichiNagoya 2026
-
Permudah Kelola Payroll Perusahaan, Gunakan Qlola by BRI dengan Sistem Terintegrasi
-
BRI Hadirkan Ekstra 27.000 GarudaMiles untuk Nasabah Infinite Prioritas