Bahaya Gula dan Garam untuk Bayi di Bawah 12 Bulan, Dampak Jangka Panjangnya Nggak Main-main!

Perhatian para orang tua sebaiknya tertuju pada bahaya gula dan garam untuk bayi, terutama di bawah usia 12 bulan.

Riki Chandra
Minggu, 21 September 2025 | 21:15 WIB
Bahaya Gula dan Garam untuk Bayi di Bawah 12 Bulan, Dampak Jangka Panjangnya Nggak Main-main!
Ilustrasi gula (Pixabay/Bruno)
Baca 10 detik
  •  Bayi butuh makanan tanpa garam untuk lindungi ginjalnya.

  • Gula dan madu tingkatkan risiko obesitas dan botulisme bayi.

  • Pola makan awal tentukan preferensi rasa dan kesehatan jangka panjang.

SuaraSumbar.id - Perhatian para orang tua sebaiknya tertuju pada bahaya gula dan garam untuk bayi, terutama di bawah usia 12 bulan.

Dokter anak senior dari India memperingatkan bahwa konsumsi garam dan gula tambahan berisiko terhadap organ bayi yang masih berkembang dan dapat memicu masalah kesehatan hingga dewasa.

Konsultan Senior Neonatologi dan Pediatri di Rumah Sakit Apollo Cradle and Children’s Bengaluru-Brookefield, Dr Senthil Kumar Sadasivam Perumal, menjelaskan bahwa ginjal bayi belum matang.

“Bayi lahir dengan ginjal yang belum matang. Ginjal mereka membutuhkan waktu untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengolah natrium. Memberi mereka sedikit garam dapat membebani ginjal mereka dan dapat menyebabkan masalah ginjal atau tekanan darah tinggi di kemudian hari," katanya dikutip dari Antara, Minggu (21/9/2025).

Sedangkan untuk gula, meski beberapa keluarga menganggap gula aren (jaggery) dan madu sebagai pilihan lebih sehat, Perumal menegaskan bahwa perbedaan manfaatnya sangat kecil dibandingkan risiko.

“Meski gula aren dikenal karena kandungan zat besinya, jumlahnya tidaklah signifikan,” ujarnya.

Madu pun dapat mengandung spora bakteri Clostridium botulinum, penyebab botulisme, yang berbahaya karena sistem pencernaan bayi belum lengkap.

Sejalan dengan ini, panduan pangan baru di Inggris juga menekankan pentingnya pengurangan gula dan garam dalam makanan bayi.

Pemerintah menyiapkan garis panduan sukarela yang mewajibkan produsen makanan bayi menurunkan kadar gula dan garam pada produk bayi hingga usia 36 bulan, serta standar pelabelan yang lebih jelas. Produsen diberi waktu 18 bulan untuk mematuhi ketentuan itu.

Kewaspadaan mengenai preferensi rasa manis atau asin sejak usia dini sangat penting. Sebab, kebiasaan tersebut dapat membentuk pola makan buruk dan meningkatkan risiko masalah obesitas, diabetes, maupun gigi berlubang di masa depan.

Sebagaimana dijelaskan Perumal, memperkenalkan ASI atau susu formula saja sudah memenuhi kebutuhan rasa dan nutrisi bayi, tanpa tambahan gula, garam, jaggery, atau madu.

“Tidak memberi garam, gula, gula aren, atau madu bukanlah kompromi, melainkan melindungi perkembangan organ bayi” katanya.

Para ahli gizi menyarankan makanan pendamping yang aman, seperti buah-buahan manis alami (pisang, apel, mangga), sayuran, lentil tanpa garam, dan lemak sehat seperti alpukat atau ghee setelah memastikan bayi tidak alergi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini