facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Petani Jeruk di Nagari Pasia Laweh Keluhkan Masalah Akses Transportasi

Wakos Reza Gautama Sabtu, 30 Januari 2021 | 15:45 WIB

Petani Jeruk di Nagari Pasia Laweh Keluhkan Masalah Akses Transportasi
Ilustrasi Petani jeruk. Petani jeruk di Nagari Pasia Laweh mengeluhkan akses tranportasi [Foto: Beritajatim]

Tokoh Masyarakat Pasia Laweh, A Dt Naro mengatakan, jeruk sudah menjadi hasil bumi utama bagi masyarakat setempat.

SuaraSumbar.id - Warga Ladang Ateh Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sebagian besar bekerja sebaga petani jeruk. Setidaknya 250 hektar lahan di Ladang Ateh sudah ditanami jeruk. 

Dalam setiap bulan, Ladang Ateh bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton jeruk. Jeruk-jeruk itu lalu dipasarkan ke luar daerah. Namun ada satu hal yang dikeluhkan para petani jeruk di Ladang Ateh. 

Yaitu persoalan akses transportasi yang tidak memadai. Akses yang sulit membuat biaya operasional tinggi. Para petani jeruk ini pun berharap ada solusi dari pemerintah mengenai hal ini.  

Salah seorang Tokoh Masyarakat Pasia Laweh, A Dt Naro mengatakan, jeruk sudah menjadi hasil bumi utama bagi masyarakat setempat.

Baca Juga: Pembangunan Fly Over Panorama 1 Sitinjau Lauik Telan Dana Triliunan

"Disini setiap bulannya kami bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton jeruk yang akan  dipasarkan di luar daerah, selain itu sebagian lahan ditanami pisang dan alpukat," ujarnya saat dikonfirmasi Covesia.com---jaringan Suara.com, pada Rabu lalu (27/1/2021).

Terkait akses transportasi yang tidak memadai, A Dt Naro mengaku memang menjadi salah satu faktor yang menjadi keluhan masyarakat. Untuk mengangkut hasil panen keluar lokasi, bisa menggunakan sepeda motor jalur yang sudah di buat secara swadaya. Hal itu tentunya membutuhkan biaya yang besar dan terkadang tidak sebanding dengan hasil panen.

"Kita berharap ada perhatian dari pemerintah, sehingga taraf kehidupan masyarakat bisa meningkat," katanya lagi.

Hal tersebut dibenarkan Zul Arfin, Walinagari Pasia Laweh. Dijelaskannya, lahan yang diolah masyarakat merupakan tanah adat, dengan luas lebih kurang 350 Hektar semenjak tahun 70an. Saat ini pihaknya tengah berupaya melakukan pengembangan baik pemasaran hasil bumi dan menjadikan perkebunan sebagai kawasan agro wisata.

"Ladang Ateh ini merupakan Kawasan puncak perbukitan dengan ketinggian sekitar 814 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL). Hasil bumi sangat melimpah, tentunya ada upaya untuk pengembangan," tuturnya.

Baca Juga: Yuk Kunjungi Rumah Gizi Satu-satunya di Sumbar

Selain perbaikan sarana transportasi, Zul Arfin berharap ada upaya pengolahan jeruk menjadi produk turunan sehingga bisa meningkatkan harga jual hasil pertanian masyarakat.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait