Petani Jeruk di Nagari Pasia Laweh Keluhkan Masalah Akses Transportasi

Tokoh Masyarakat Pasia Laweh, A Dt Naro mengatakan, jeruk sudah menjadi hasil bumi utama bagi masyarakat setempat.

Wakos Reza Gautama
Sabtu, 30 Januari 2021 | 15:45 WIB
Petani Jeruk di Nagari Pasia Laweh Keluhkan Masalah Akses Transportasi
Ilustrasi Petani jeruk. Petani jeruk di Nagari Pasia Laweh mengeluhkan akses tranportasi [Foto: Beritajatim]

SuaraSumbar.id - Warga Ladang Ateh Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sebagian besar bekerja sebaga petani jeruk. Setidaknya 250 hektar lahan di Ladang Ateh sudah ditanami jeruk. 

Dalam setiap bulan, Ladang Ateh bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton jeruk. Jeruk-jeruk itu lalu dipasarkan ke luar daerah. Namun ada satu hal yang dikeluhkan para petani jeruk di Ladang Ateh. 

Yaitu persoalan akses transportasi yang tidak memadai. Akses yang sulit membuat biaya operasional tinggi. Para petani jeruk ini pun berharap ada solusi dari pemerintah mengenai hal ini.  

Salah seorang Tokoh Masyarakat Pasia Laweh, A Dt Naro mengatakan, jeruk sudah menjadi hasil bumi utama bagi masyarakat setempat.

Baca Juga:Pembangunan Fly Over Panorama 1 Sitinjau Lauik Telan Dana Triliunan

"Disini setiap bulannya kami bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton jeruk yang akan  dipasarkan di luar daerah, selain itu sebagian lahan ditanami pisang dan alpukat," ujarnya saat dikonfirmasi Covesia.com---jaringan Suara.com, pada Rabu lalu (27/1/2021).

Terkait akses transportasi yang tidak memadai, A Dt Naro mengaku memang menjadi salah satu faktor yang menjadi keluhan masyarakat. Untuk mengangkut hasil panen keluar lokasi, bisa menggunakan sepeda motor jalur yang sudah di buat secara swadaya. Hal itu tentunya membutuhkan biaya yang besar dan terkadang tidak sebanding dengan hasil panen.

"Kita berharap ada perhatian dari pemerintah, sehingga taraf kehidupan masyarakat bisa meningkat," katanya lagi.

Hal tersebut dibenarkan Zul Arfin, Walinagari Pasia Laweh. Dijelaskannya, lahan yang diolah masyarakat merupakan tanah adat, dengan luas lebih kurang 350 Hektar semenjak tahun 70an. Saat ini pihaknya tengah berupaya melakukan pengembangan baik pemasaran hasil bumi dan menjadikan perkebunan sebagai kawasan agro wisata.

"Ladang Ateh ini merupakan Kawasan puncak perbukitan dengan ketinggian sekitar 814 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL). Hasil bumi sangat melimpah, tentunya ada upaya untuk pengembangan," tuturnya.

Baca Juga:Yuk Kunjungi Rumah Gizi Satu-satunya di Sumbar

Selain perbaikan sarana transportasi, Zul Arfin berharap ada upaya pengolahan jeruk menjadi produk turunan sehingga bisa meningkatkan harga jual hasil pertanian masyarakat.

"Jika panen raya, proses pemanenan jeruk membutuhkan waktu yang cukup lama, jika tidak buah yang sudah ranum akan jatuh dan membusuk. kita butuh upaya katakan lah pengolahan menjadi minuman kemasan sehingga masyarakat bisa mengolah dan bisa dijual dengan harga lebih tinggi," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini