Riki Chandra
Jum'at, 20 Februari 2026 | 21:51 WIB
Nagari 1000 Rumah Gadang. [Wikimedia]
Baca 10 detik
  •  Banyak Rumah Gadang di Sumbar rusak dan hampir ambruk.

  • Wagub minta anggaran pemugaran segera disiapkan.

  • Renovasi disertai dokumentasi sejarah dan storytelling budaya.

SuaraSumbar.id - Kondisi Rumah Gadang di Sumatera Barat (Sumbar) makin memprihatinkan. Banyak bangunan adat yang menjadi simbol budaya Minangkabau itu dilaporkan dalam keadaan rusak, bahkan nyaris ambruk.

Wagub Sumbar, Vasko Ruseimy mengatakan bahwa situasi Rumah Gadang yang memprihatinkan ini bisa mengancam kelestarian sejarah dan identitas daerah Minangkabau.

Hal itu ditegaskan Vasko dalam rapat bersama jajaran Dinas Kebudayaan (Disbud) Sumbar beberapa waktu lalu. Ia menegaskan bahwa bangunan adat tersebut bukan sekadar konstruksi fisik, tetapi memiliki nilai historis yang kuat.

“Banyak banget Rumah Gadang yang sudah ambruk hampir hancur,” ujar Vasko Ruseimy, Jumat (20/2/2026).

Ia menegaskan bahwa Rumah Gadang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol sejarah dan kebesaran adat Minangkabau yang memiliki nilai historical sangat kuat.

Menurutnya, Pemprov Sumbar tengah memikirkan langkah konkret untuk mengalokasikan anggaran pemugaran. “Nah ini gimana caranya nanti kita alokasikan, siapkan anggaran buat kita pilih berapa Rumah Gadang nanti (untuk dipugar),” katanya.

Ia meminta agar dilakukan seleksi terhadap sejumlah Rumah Gadang yang dinilai prioritas untuk diperbaiki dan dirawat kembali. Langkah tersebut akan dilakukan melalui pemetaan serta plotting bangunan yang memiliki nilai sejarah penting di tingkat nagari.

Lebih lanjut, Vasko menekankan pentingnya dukungan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam menyisihkan dana khusus untuk pelestarian bangunan bersejarah tersebut.

“Minta tolong nanti yah dimasukin yah, kita sisihkan berapa anggaran nanti minta sama TAPD, yang sejarah-sejarah itu penting tuh,” ucapnya.

Ia juga menyoroti bahwa banyak Rumah Gadang milik kaum di nagari yang menyimpan kisah panjang sejarah. Setiap bangunan disebut memiliki cerita tersendiri, mulai dari proses pembangunan oleh Ninik Mamak hingga dinamika sejarah yang pernah terjadi.

Namun, ia menegaskan bahwa pemugaran tidak boleh hanya sebatas renovasi fisik. “Renovasi itu jangan hanya sekedar kita renov, tapi kita buat historical-nya, ada story telling-nya di situ,” ujarnya.

Vasko ingin agar setiap Rumah Gadang yang dipugar dilengkapi narasi sejarah untuk memperkuat nilai edukasi bagi generasi muda. Ia bahkan mencontohkan kemungkinan adanya kisah Rumah Gadang yang pernah dibakar Belanda atau peristiwa lain yang menjadi bagian perjalanan masyarakat Minangkabau.

“Disiapin yah pak (Kadis Kebudayaan) diploting, mengerti yah maksudnya. Pokoknya saya ingin melestarikan Rumah Gadang di Sumbar ini jangan sampai hilanglah,” tegasnya.

Langkah pelestarian ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan budaya Minangkabau. Dengan kondisi Rumah Gadang Sumbar memprihatinkan, upaya penyediaan anggaran pemugaran menjadi bagian penting dalam menjaga identitas dan sejarah daerah. (Antara)

Load More