Riki Chandra
Rabu, 14 Januari 2026 | 11:51 WIB
DOKUMEN: Erupsi Gunung Marapi. [Dok. Antara]
Baca 10 detik
  • Gunung Marapi erupsi pagi hari, kolom abu capai 1.600 meter.
  • Status Gunung Marapi Level II, warga dilarang mendekat radius tiga kilometer.
  • PVMBG ingatkan bahaya lahar dingin dan hujan abu vulkanik.

SuaraSumbar.id - Gunung Marapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), itu menyemburkan abu vulkanik setinggi 1.600 meter pada Rabu (14/1/2026), sekitar pukul 09.36 WIB.

Petugas Pos Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi, menyampaikan bahwa erupsi Gunung Marapi teramati jelas dari pos pemantauan.

"Telah terjadi erupsi Gunung Marapi pukul 09.36 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.600 meter di atas puncak gunung," kata Ahmad Rifandi.

Berdasarkan laporan resmi PGA, kolom abu Gunung Marapi berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah timur laut.

Aktivitas letusan tersebut terekam jelas pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 28,6 milimeter dan durasi erupsi sekitar 31 detik. Data ini menunjukkan erupsi terjadi cukup signifikan meski berdurasi relatif singkat.

"Erupsi masih berlangsung saat laporan dibuat," lanjut Ahmad Rifandi.

Hingga saat ini, status Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada. Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting demi keselamatan masyarakat.

Salah satunya adalah melarang warga, wisatawan, maupun pengunjung untuk melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung, yakni Kawah Verbeek.

Selain ancaman erupsi, PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya lain yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Marapi, terutama lahar dingin.

Risiko ini meningkat bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu langsung dari puncak gunung, khususnya saat terjadi hujan atau memasuki musim hujan.

Dalam kondisi hujan abu, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna menghindari gangguan pada saluran pernapasan. Abu vulkanik yang terhirup dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

PGA bersama PVMBG juga terus mengingatkan adanya tumpukan material hasil letusan Gunung Marapi yang berpotensi terbawa aliran air. Kondisi tersebut dapat memicu banjir lahar dingin sewaktu-waktu, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang. (Antara)

Load More