-
Dana zakat untuk non-Muslim diperbolehkan jika termasuk muallaf.
-
Al-Qur’an menetapkan delapan golongan penerima zakat, termasuk muallaf.
-
Pemberian zakat bertujuan menjaga keharmonisan dan dakwah sosial Islam.
SuaraSumbar.id - Pertanyaan tentang bolehkah dana zakat untuk non Muslim kerap muncul di tengah masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman agama.
Mengutip ulasan website Muhammadiyah, sebagai salah satu rukun Islam, zakat memiliki aturan tegas mengenai siapa saja yang berhak menerimanya (mustahiq zakat). Namun, dalam konteks sosial yang plural, muncul perbincangan: apakah zakat boleh diberikan kepada non-Muslim?
Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60, Allah SWT menetapkan delapan golongan penerima zakat:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, amil zakat, muallaf, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang yang berutang, di jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan.” (QS. At-Taubah: 60)
Dari ayat tersebut, terdapat istilah muallaf (المؤلفة قلوبهم) yang berarti “orang yang dilunakkan hatinya.” Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kategori muallaf dapat mencakup non-Muslim tertentu yang menerima zakat untuk tujuan kemanusiaan atau dakwah.
Menurut penafsiran para ulama, pemberian dana zakat untuk non-Muslim dimungkinkan jika bertujuan melunakkan hati mereka terhadap Islam, mendorong keharmonisan sosial, atau menghindari permusuhan. Dalam konteks ini, penerima bisa termasuk:
- Non Muslim yang diharapkan tertarik pada Islam,
- Muslim baru yang perlu dikuatkan keimanannya,
- Tokoh masyarakat non-Muslim yang berpengaruh dalam menjaga perdamaian.
Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan prinsip keadilan universal dalam hubungan antarumat beragama. Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8 disebutkan:
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Ayat ini menjadi dasar etis bagi umat Islam untuk tetap berbuat baik kepada non-Muslim, termasuk melalui bentuk bantuan sosial seperti zakat, selama hal itu bertujuan menciptakan kedamaian dan solidaritas kemanusiaan.
Dengan demikian, bolehkah dana zakat untuk non-Muslim bergantung pada konteks dan niat pemberiannya. Jika termasuk dalam golongan muallaf sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan tafsir ulama, maka pemberian tersebut diperbolehkan sebagai bagian dari dakwah dan penguatan hubungan sosial.
Berita Terkait
-
Sepakat Fatwa MUI, Menag Minta Zakat Bisa Jadi Kredit Pajak
-
Tablig Akbar di Monas, Ribuan Jemaah Panjatkan Doa untuk Indonesia
-
Ekonomi Syariah Belum Dilirik Pemerintah, Industri Usul Transaksi Zakat-Haji lewat Bank Syariah
-
Bongkar Pengelolaan Dana Umat, Transparansi Digital Jadi Kunci Perkuat Kepercayaan Publik
-
Bayar Zakat Lewat BRILink Bisa Kurangi Pajak? Ini Penjelasannya
Terpopuler
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- 5 Sepatu Jalan Lokal Tanpa Tali yang Nyaman dan Anti Jebol Menurut Review
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
BRI Private dan BRI Prioritas Tawarkan Privilege Pendidikan Anak di Sequoia School
-
Sempat Lumpuh Lima Jam Akibat Longsor, Jalur Sumbar-Riau di Limapuluh Kota Kembali Bisa Dilalui
-
Longsor Timbun Badan Jalan di Pangkalan Limapuluh Kota, Akses Sumbar-Riau Ditutup
-
Mahasiswa Asal Padang Diduga Terlibat Perdagangan Orang dan Eksploitasi Seksual Anak
-
Pesta Pernikahan di Padang Berujung Petaka, 20 Warga Diduga Keracunan