Riki Chandra
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 20:48 WIB
Ketua PW MPI Sumbar, Muhayatul, menerima bendera dari PB MPI untuk dikabarkan di Ranah Minang. [Dok. Istimewa]

Minang Pernah Jadi "Otak" Republik

Di sisi lain, Dahnil Anzar Simanjuntak menyinggung soal kondisi intelektual masyarakat Minang. Dulu, nilai-nilai yang ada pada orang Minang menjadi pusat pemikiran bangsa.

“Orang Minang dulu adalah "otaknya" republik. Indonesia lahir berkat pemikiran tokoh-tokoh Minang. Bung Hatta dan Sutan Syahrir, misalnya, membawa gagasan kebangsaan dan intelektual yang menjadi fondasi negara ini,” ujar Dahnil.

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu juga menyinggung tokoh besar lainnya seperti Tan Malaka dengan pemikiran Madilog yang pengaruhnya mendunia.

Selain itu ada Buya Hamka, ulama sekaligus sastrawan dan politisi, yang karya-karyanya dibaca luas. Tokoh Minang lainnya seperti Syafruddin Prawiranegara, Presiden RI pada masa PDRI, serta Agus Salim juga disebutnya berperan penting.

“Para bapak bangsa dari Minang ini menghidupkan nilai kebangsaan dalam ideologi negara. Ada yang nasionalis, ada yang religius, ada pula yang condong ke kiri atau ke kanan. Tapi semuanya memberi warna bagi republik ini,” jelasnya.

Dahnil pun mengajak masyarakat Minang untuk bercermin dan kembali menghidupkan peran strategis tersebut.

“Kalau dulu Minang jadi otak republik, sekarang bagaimana? PR besar MPI Sumbar kita adalah mengembalikan Minang sebagai pusat gerakan dan pemikiran bangsa.

Load More