SuaraSumbar.id - Sejak Januari hingga Juli 2024, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) berhasil menyelamatkan atau menangani 21 konflik Harimau Sumatera di berbagai daerah di Ranah Minang.
"Selama 2024, BKSDA Sumbar sudah melakukan penyelamatan 21 kejadian dari 70-an kasus," kata Kepala BKSDA Sumbar, Lugi Hartanto, Senin (29/7/2024).
Berkaca dari beberapa tahun sebelumnya, BKSDA Sumbar cukup berhasil dalam menyelamatkan populasi satwa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tersebut dari berbagai ancaman.
Rinciannya, pada 2021 BKSDA Sumbar berhasil melakukan penyelamatan 33 Harimau Sumatera dari 76 kejadian di wilayah kerjanya. Selanjutnya pada 2023 instansi itu menyelamatkan 34 ekor Harimau Sumatera.
"BKSDA berhasil menyelamatkan hampir separuh Harimau Sumatera dari kejadian yang ada," kata Lugi.
Berdasarkan data yang dihimpun BKSDA setempat, pada umumnya satwa dengan nama latin panthera tigris sumatrae tersebut berusia dua hingga tiga tahun. Artinya, penyelamatan satwa itu potensial untuk menjaga kelangsungan dan keberadaan Harimau Sumatra.
Dalam diskusi itu, ia menjelaskan keterikatan antara adat istiadat masyarakat Minangkabau dengan harimau menjadi poin positif dalam upaya menjaga kelangsungannya. Bahkan, hal itu sama sekali tidak dimiliki oleh provinsi lain yang juga mempunyai populasi Harimau Sumatra.
Meskipun harimau menjadi satwa yang dihormati di Tanah Minangkabau, katanya, kematian Harimau Sumatra akibat jerat yang dipasang warga masih kerap terjadi.
BKSDA mengevakuasi Harimau Sumatra betina yang mati akibat terjerat di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam pada Kamis (25/7/2024). Berdasarkan hasil nekropsi Harimau Sumatra mati karena trakea pecah fraktur pada tulang leher, dan mengakibatkan gagal nafas.
Kasus Harimau Sumatra yang diperkirakan berusia dua tahun tersebut menambah rentetan panjang kematian satwa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya itu masuk perangkap jerat babi.
Setidaknya dalam kurun dua tahun terakhir BKSDA Provinsi Sumbar mencatat dua Harimau Sumatra mati akibat terkena jerat babi yang dipasang masyarakat. (Antara)
Berita Terkait
-
Harimau Sumatera Pemangsa Ternak Warga Berhasil Dievakuasi
-
Harimau Sumatera Dievakuasi usai Masuk Ladang Warga
-
Polisi Gulung Jaringan Penjual Kulit Harimau Sumatera, Pelaku Utama Dibekuk di Nagan Raya
-
Rizky dan Lestari, Harimau Sumatera penghuni baru TMSBK Bukittinggi
-
Melihat Proses Evakuasi Harimau Sumatera Pemakan Ternak di Agam
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Terungkap Dugaan Praktik Mucikari di Padang, Satu Pria Dibawa ke Polda
-
Jaga Kesehatan Keluarga, BRI Berikan Healthcare Privilege Eksklusif Bersama Prodia
-
Menaker Dukung Program Magang Nasional BRI untuk Cetak Talenta Muda Siap Kerja
-
Solar Subsidi Diduga Dikumpulkan di Pessel untuk Dijual ke Jambi, Polisi Tangkap Pria 53 Tahun
-
DPO Sejak 2025, Mantan Pimpinan BPR JKT-Pariaman Akhirnya Diringkus