- Dinas Kesehatan Sumatera Barat mencatat 601.396 kasus infeksi saluran pernapasan akut dari Januari hingga 20 Oktober 2026.
- Kota Padang menjadi wilayah dengan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut tertinggi di seluruh wilayah Sumatera Barat.
- Peningkatan kasus tersebut diduga dipengaruhi oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang memperburuk udara.
SuaraSumbar.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Barat mencatat sebanyak 601.396 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2026.
Tingginya jumlah kasus tersebut menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Barat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumbar, dr. Riena Sovianty, mengatakan kasus ISPA mengalami fluktuasi sejak awal tahun.
Meski pemantauan telah dilakukan sejak Januari, paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga turut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.
“Kita tidak hanya memantau ISPA saat kabut asap, tetapi sejak awal tahun. Ada naik turun angka ISPA dan hingga Oktober ini kita mencatat setidaknya 601.396 kasus di Sumbar,” katanya, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan data Dinkes Sumbar, kasus ISPA pada Januari tercatat sebanyak 69.503 kasus, Februari 61.559 kasus, Maret 53.790 kasus, April 65.976 kasus, dan Mei 52.750 kasus.
Selanjutnya, pada Juni tercatat 59.470 kasus, Juli 60.164 kasus, Agustus 68.349 kasus, September 66.284 kasus, serta 43.551 kasus selama periode 1–20 Oktober 2026.
Data tersebut menunjukkan jumlah kasus ISPA mengalami perubahan dari bulan ke bulan. Pada Januari, jumlah kasus tercatat 69.503, kemudian menurun hingga mencapai 52.750 kasus pada Mei.
Angka tersebut kembali meningkat pada bulan-bulan berikutnya, dengan jumlah kasus mencapai 68.349 pada Agustus sebelum tercatat 66.284 kasus pada September.
"Berdasarkan data Januari hingga September 2026, kelompok dewasa mendominasi penderita ISPA dengan 216.065 kasus atau 39,64 persen," ujarnya.
Berikutnya, kelompok lanjut usia (lansia) tercatat sebanyak 101.920 kasus atau 18,65 persen, balita 94.516 kasus atau 17,30 persen, anak-anak 67.223 kasus atau 12,21 persen, serta remaja sebanyak 66.709 kasus atau 12,30 persen.
Riena menyebut Kota Padang menjadi wilayah dengan jumlah penderita ISPA terbanyak di Sumatera Barat. Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap, Dinkes Sumbar telah menerbitkan surat edaran yang berisi upaya mitigasi dan pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan, ISPA dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Namun, paparan kabut asap akibat karhutla dapat memperburuk gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang lebih serius, termasuk pneumonia.
Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam lebih dari tiga hari, sesak napas, atau napas cepat. Sementara itu, pada anak-anak, gejala yang perlu diwaspadai meliputi rewel, kesulitan makan atau minum, serta batuk berkepanjangan.
“Penggunaan masker tetap dianjurkan selama kualitas udara masih terdampak kabut asap. Masyarakat juga diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memantau informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU),” tutupnya.