- Praktisi kesehatan Phaidon L. Toruan menyatakan sakit kepala pagi hari bagi penderita hipertensi menandakan tekanan darah tidak terkontrol.
- Profesor Gadis Sri Haryani mengalami sakit kepala pagi akibat tekanan darah tinggi, kolesterol, serta asam urat.
- Teknologi laser rendah dapat mendukung pengendalian tekanan darah tinggi, namun tetap memerlukan penerapan pola hidup sehat.
SuaraSumbar.id - Sakit kepala saat baru bangun tidur sering kali dianggap sebagai akibat kurang tidur atau kelelahan. Padahal, jika kondisi ini terjadi berulang, terutama pada seseorang yang memiliki riwayat hipertensi, gejala tersebut bisa menjadi peringatan dini bahwa tekanan darah sedang tidak terkontrol.
Praktisi kesehatan, Phaidon L. Toruan, menjelaskan bahwa penderita hipertensi rentan mengalami sakit kepala berulang di pagi hari.
Penyebabnya adalah lonjakan hormon kortisol dan adrenalin yang secara alami diproduksi tubuh setelah bangun tidur. Kedua hormon ini memicu kenaikan tekanan darah yang kemudian menimbulkan rasa nyeri di kepala.
"Jika Anda memiliki riwayat hipertensi dan sering merasakan sakit kepala saat bangun pagi, segera periksakan diri ke dokter," kata Phaidon, melansir Batamnews.co.id, Senin, 27 Juli 2026.
Penanganan yang tepat sejak dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi lebih serius.
Pengalaman serupa dialami oleh Prof. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani dilansir dari salah satu TV nasional. Ia mengaku sempat merasakan sakit kepala setiap pagi.
Setelah diperiksa, tekanan darahnya mencapai 150/90 mmHg. Selain hipertensi, ia juga diketahui memiliki kadar kolesterol tinggi dan asam urat yang meningkat.
Gadis pun mulai mengubah gaya hidupnya untuk menjaga kesehatan. Ia menekankan pentingnya rutin memantau tekanan darah, berolahraga, dan berkonsultasi dengan tenaga medis sebagai langkah pencegahan komplikasi.
Dalam upaya menjaga kesehatan pembuluh darah, teknologi laser kini menjadi salah satu pilihan pendukung. Teknologi laser low level diklaim mampu membantu mengendalikan tekanan darah tinggi dengan meningkatkan kualitas darah dan pembuluh darah.
Penggunaan teknologi laser tidak hanya direkomendasikan bagi mereka yang sudah memiliki keluhan penyakit, tetapi juga sebagai bentuk pencegahan bagi masyarakat sehat.
Namun, para ahli tetap mengingatkan bahwa teknologi ini hanya pelengkap, bukan pengganti pola hidup sehat dan konsultasi medis secara rutin.
Berita Terkait
-
Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo
-
5 Rekomendasi Minyak Rosemary Perawatan Rambut Rontok
-
Pentingnya Mengurai Benang Kusut Pikiran lewat Journaling
-
Kenapa Makanan Fermentasi Bagus untuk Kulit? Ini Penjelasannya
-
Nada Kasih Gelar Konser Amal Harapan dalam Harmoni, Bantu Anak Butuh Layanan Kesehatan
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
5 Tahun Holding Ultra Mikro, Perkuat Ekosistem UMKM
-
Raih Penghargaan, BRI Dorong Transformasi Digital Lewat BRImo Taiwan
-
DPLK BRI Tegaskan Komitmen ESG Lewat Raihan Kehati ESG Award 2026
-
Dukung Arahan Prabowo, BRI Siap Perluas Rekening Perbankan Masyarakat
-
BRI Multiguna Pre-Approved, Pembiayaan Praktis Bagi Nasabah Terpilih