- DPR usul badan khusus tangani dampak banjir dan longsor Sumatera.
- Kerusakan fasilitas publik dan korban jiwa capai angka besar.
- Penanganan terpusat dinilai efektif hadapi bencana berkepanjangan.
SuaraSumbar.id - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mengusulkan pemerintah membentuk badan khusus untuk menangani bencana hidrometeorologi Sumatera yang melanda wilayah luas di Pulau Sumatera.
Usulan ini dinilai penting menyusul dampak banjir bandang dan longsor yang terjadi serentak di 52 kabupaten/kota pada tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Alex, kompleksitas bencana hidrometeorologi Sumatera jauh berbeda dengan penanganan bencana sebelumnya. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menyentuh permukiman warga, tetapi juga lingkungan hidup dan infrastruktur vital.
“Kita punya pengalaman dalam menangani dampak tsunami Aceh-Nias tahun 2024. Kita juga punya pengalaman menangani, gempa, likuifaksi, banjir atau longsor. Namun, banjir dan longsor disertai massifnya kerusakan lingkungan, kita tak pernah mengalaminya. Karenanya, kehadiran badan khusus ini sangat diperlukan,” tegas Alex dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (3/1/2026).
Usulan pembentukan badan khusus bencana hidrometeorologi Sumatera ini disampaikan sebagai respons atas persetujuan Presiden Prabowo terhadap pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kuala.
Satgas tersebut diusulkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat terbatas di lokasi hunian sementara yang dibangun Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1/2026).
Satgas Kuala akan difokuskan pada pengerukan sungai yang mengalami pendangkalan akibat timbunan lumpur, sekaligus mengolah air berlumpur menjadi air bersih bagi masyarakat terdampak. Namun, Alex menilai ruang lingkup tugas tersebut perlu diperluas.
“Kami menilai, Satgas ini layak ditingkatkan statusnya jadi badan khusus. Jadi, tugasnya tak sekadar mengeruk sungai, tapi menangani dampak bencana secara lebih komprehensif serta menghilangkan kendala teknis terkait kewenangan,” tegas Alex.
Ia juga mengingatkan potensi bencana berkepanjangan. “Selain itu, bencana ini juga berpotensi berlangsung dalam waktu lebih panjang seiring prakiraan BMKG yang merilis, curah hujan tinggi akan masih terjadi hingga Maret 2026,” katanya.
Dengan adanya badan khusus, lanjut Alex, pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana akan lebih terfokus. “Untuk anggaran badan khusus, tinggal mengkoordinasikannya dengan kementrian atau lembaga. Artinya, kita tidak perlu mengubah UU APBN, karena dia akan meletakan anggaran pada satu badan khusus,” tegas Alex.
Ia menambahkan, badan khusus juga memberi kepastian kepada pemerintah daerah dan penyintas bahwa negara hadir secara langsung dan terencana.
“BRR Aceh-Nias diakui dunia karena kepemimpinan efektif, manajemen transparan tanpa korupsi (zero corruption). Kita berharap hal serupa berulang lagi dalam pengananan banjir Sumatera ini,” ujar Alex.
Data kerusakan akibat bencana hidrometeorologi Sumatera mencatat dampak serius pada fasilitas publik. Tercatat 3.188 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, 215 fasilitas kesehatan, 81 ruas jalan, dan 34 jembatan terdampak. Aceh menjadi wilayah dengan kerusakan terbesar, disusul Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Hingga Jumat (2/1/2026), korban tewas mencapai 1.157 jiwa, dengan 165 orang masih dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi tercatat 380.287 jiwa, mayoritas berada di Aceh. Kondisi ini menegaskan urgensi penanganan terpusat dan berkelanjutan terhadap bencana hidrometeorologi Sumatera.
Berita Terkait
-
Program Makan Bergizi Gratis Belum Capai Target, Realisasinya Baru 59 Persen
-
Masih Disidik Kejagung, Motor Listrik Rp243,9 Miliar Milik BGN Belum Dicatat sebagai Aset
-
Masih Nunggak Rp1,6 Triliun ke Pihak Ketiga, BGN Janji Bakal Bayar Tahun Ini
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Kasus Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm Perlindungan Anak di Era Digital
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
AKBP Terlapor Dugaan Pelecehan Polwan Batal Dilantik jadi Kabid Dokkes Polda Sumbar
-
Transformasi Digital BRI Perkuat Merchant dan QRIS, dan Akses Keuangan Danantara
-
Disdik Padang Soal Siswi SD Meninggal: Tidak Ada Indikasi Perundungan
-
Polwan Diduga Dilecehkan Perwira Berpangkat AKBP, LBH Padang Kecam Penghentian Kasus
-
Sakit Kepala Saat Bangun Tidur? Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Ini