- Ratna kehilangan suami dan kakaknya akibat banjir bandang Padang Panjang.
- Ia berjuang menguatkan empat anaknya meski duka mendalam masih menghantui.
- Suami sempat menyuruh mengungsi sebelum terseret arus deras hingga meninggal.
SuaraSumbar.id - Air mata Ratna Wati (32 tahun) tak terbendung usai salat Ashar di musala posko pengusian Kantor Lurah Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (29/11/2025).
Dari atas sajadah, matanya merah memandang anak perempuan bungsunya yang masih berusia tiga tahun. Ratna menangis megenang kepergian tragis suaminya Reki Saputra (38) dan kakanya, Maryulis (50). Keduanya menjadi korban banjir bandang di dekat gapura Padang Panjang.
Jenazah suami dan kakanya baru saja dimakamkan selesai salat zhuhur. "Semoga saya bisa melewati ujian ini," ucap Ratna saat dimintai wawancaranya.
"Sudah tiga hari berturut-turut air mata saya berlinang. Tapi saya mencoba kuat, demi anak-anak dan mentalnya," sambungnya.
Ratna adalah sosok seorang ibu empat orang anak. Usia anak-anaknya terbilang masih belia, 12 tahun, 10 tahun, enam tahun dan si kecil tiga tahun.
Baru beberapa hari sang ayah tiada, anak-anak Ratna selalu bertanya. Mereka benar-benar kehilangan sosok ayah.
"Sejak mendapat musibah ini, anak saya kehilangan sosok seorang ayah. Kalau rumah dan barang berharga bisa ikhlas, tapi kalau suami, saya harus mencoba menguatkan hati," rintihnya.
Ratna masih tidak menyangka, Rabu (26/11/2025) malam atau sehari sebelum kejadian bencana, menjadi momen terakhir ia bertemu suami tercinta. Dari rumah makan tempat bekerja, Reki tergesa pulang menghampiri keluarga.
"Suami saya menyuruh mengungsi malam itu. Karena cuaca sudah tidak aman," ucapnya.
"Bawa semuanya ke atas mobil, orang tua, kakak. Anak-anak selamatkan, saya di sini saja, di rumah, memantau air (sungai)," kata Ratna mengulang kalimat suaminya untuk menyuruh menjauh dari rumah.
Ratna bersama orang tua, anak-anaknya lalu menumpangi mobil almarhumah kakaknya. Ia lalu mengungsi ke rumah saudara. Sesampai di sana, ia mencoba menghubungi suami, namun terkendala jaringan.
Komunikasi Ratna dengan suami baru bisa pagi esok harinya, Kamis (27/11/2025). Ratna masih ingat, pukul 08.10 WIB, untuk terakhir kalinya ia mendengar suara suaminya.
Ketika itu, Ratna meminta menjemput almarhumah kakaknya karena mobil mogok di dekat Mifan Padang Panjang. Kakaknya ingin kembali ke rumah rencana memasak makanan untuk bersama.
"Dijemput pakai sepada motor. Kakak ke rumahnya, suami saya juga ke rumah kami. Rumah saya dengan kakak berseberangan jalan," jelasnya.
Pagi menjelang siang, hati Ratna selalu risau tak karuan. Rasa khawatir terus datang, memikirkan suami di rumah di tengah hujan deras yang masih melanda.
Berita Terkait
-
Harga Material Naik, Bantuan Rumah Korban Banjir Sumatra Diusul Jadi Rp80 Juta
-
Kemensos Kawal Sekolah Rakyat Bener Meriah, Bantuan Jadup Rp3,07 Miliar Segera Disalurkan
-
Kemensos Kawal Sekolah Rakyat Bener Meriah, Bantuan Jadup Rp3,07 Miliar Segera Disalurkan
-
Dampak Gempa M 6,7 di Wilayah Sigi
-
1 Warga Tewas Akibat Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, 312 Jiwa Terdampak
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Warga Agam Diduga Jadi Korban Penyekapan di Myanmar dan Memohon Pulang
-
PBHI Serahkan Data Baru ke Ombudsman, Soroti Dokumen Kebencanaan Izin Tambang Andesit Kasang
-
Psikolog Ungkap Pencegahan Bullying Tak Cukup dengan Hukuman, Berkaca dari Kasus MAN 3 Padang
-
Siswa MAN 3 Padang Belajar Rakit Bom dari Internet
-
Fakta Siswa Pembawa Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Dikenal Pendiam dan Sering Absen