Riki Chandra
Sabtu, 29 November 2025 | 21:48 WIB
Ratna Wati, korban selamat banjir bandang di Padang Panjang. Bencana itu merenggut nyawa suami dan kakaknya. [Suara.com/ Saptra S]
Baca 10 detik
  • Ratna kehilangan suami dan kakaknya akibat banjir bandang Padang Panjang.
  • Ia berjuang menguatkan empat anaknya meski duka mendalam masih menghantui.
  • Suami sempat menyuruh mengungsi sebelum terseret arus deras hingga meninggal.

SuaraSumbar.id - Air mata Ratna Wati (32 tahun) tak terbendung usai salat Ashar di musala posko pengusian Kantor Lurah Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (29/11/2025).

Dari atas sajadah, matanya merah memandang anak perempuan bungsunya yang masih berusia tiga tahun. Ratna menangis megenang kepergian tragis suaminya Reki Saputra (38) dan kakanya, Maryulis (50). Keduanya menjadi korban banjir bandang di dekat gapura Padang Panjang.

Jenazah suami dan kakanya baru saja dimakamkan selesai salat zhuhur. "Semoga saya bisa melewati ujian ini," ucap Ratna saat dimintai wawancaranya.

"Sudah tiga hari berturut-turut air mata saya berlinang. Tapi saya mencoba kuat, demi anak-anak dan mentalnya," sambungnya.

Ratna adalah sosok seorang ibu empat orang anak. Usia anak-anaknya terbilang masih belia, 12 tahun, 10 tahun, enam tahun dan si kecil tiga tahun.

Baru beberapa hari sang ayah tiada, anak-anak Ratna selalu bertanya. Mereka benar-benar kehilangan sosok ayah.

"Sejak mendapat musibah ini, anak saya kehilangan sosok seorang ayah. Kalau rumah dan barang berharga bisa ikhlas, tapi kalau suami, saya harus mencoba menguatkan hati," rintihnya.

Ratna masih tidak menyangka, Rabu (26/11/2025) malam atau sehari sebelum kejadian bencana, menjadi momen terakhir ia bertemu suami tercinta. Dari rumah makan tempat bekerja, Reki tergesa pulang menghampiri keluarga.

"Suami saya menyuruh mengungsi malam itu. Karena cuaca sudah tidak aman," ucapnya.

"Bawa semuanya ke atas mobil, orang tua, kakak. Anak-anak selamatkan, saya di sini saja, di rumah, memantau air (sungai)," kata Ratna mengulang kalimat suaminya untuk menyuruh menjauh dari rumah.

Ratna bersama orang tua, anak-anaknya lalu menumpangi mobil almarhumah kakaknya. Ia lalu mengungsi ke rumah saudara. Sesampai di sana, ia mencoba menghubungi suami, namun terkendala jaringan.

Komunikasi Ratna dengan suami baru bisa pagi esok harinya, Kamis (27/11/2025). Ratna masih ingat, pukul 08.10 WIB, untuk terakhir kalinya ia mendengar suara suaminya.

Ketika itu, Ratna meminta menjemput almarhumah kakaknya karena mobil mogok di dekat Mifan Padang Panjang. Kakaknya ingin kembali ke rumah rencana memasak makanan untuk bersama.

"Dijemput pakai sepada motor. Kakak ke rumahnya, suami saya juga ke rumah kami. Rumah saya dengan kakak berseberangan jalan," jelasnya.

Pagi menjelang siang, hati Ratna selalu risau tak karuan. Rasa khawatir terus datang, memikirkan suami di rumah di tengah hujan deras yang masih melanda.

"Siang itu, lalu saya mendapat kabar berita dari keponakan, kondisi di gapura sudah parah dan videonya sudah beredar," ungkapnya.

Beberapa jam setelah musibah itu datang, jasad Reki juga langsung ditemukan sudah tidak bernyawa. Terseret beberapa kilometer dari titik rumahnya.

Kabar yang ditakutinya itu datang hingga nyaris membuatnya pingsan. Ditambah banyak orang-orang yang mengirimkan foto seseorang yang mirip dengan suaminya ditemukan meninggal.

"Saya tidak sanggup melihatnya ketika itu," ujarnya.

Jenazah Reki dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang. Ratna pada saat itu tidak bisa langsung berjumpa jasad suami, karena kondisi jalan Padang-Bukittinggi yang putus total.

"Dua hari jenazah suami saya di rumah sakit. Kemudian, ketemu juga jasad kakak saya dalam kondisi meninggal. Sehingga mereka berdua di sana (rumah sakit)," tuturnya.

Setelah identifikasi, jasad Reki dan Maryulis diserahkan ke keluarga. Dalam satu ambulans, mereka pulang dengan tenang ke kampung halaman.

Kini, Ratna hanya bisa mengenang, sosok ayah sekaligus suami yang teladan dan penuh tanggung jawab ke keluarga sudah tiada.

"Saya bisa sabar. Di posko pengusian ini banyak orang untuk menguatkan hati saya, tapi sebenarnya hati saya hancur," tuturnya.

Kontributor: Saptra S

Load More