-
Mahyeldi dorong diversifikasi pangan lokal kurangi konsumsi beras.
-
Ketahanan pangan dikaitkan dengan stabilitas dan kemandirian bangsa.
-
Program Smart Food B2SA dukung Perpres percepatan diversifikasi pangan.
SuaraSumbar.id - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi, mengingatkan masyarakat untuk tidak terlalu bergantung pada beras dan mulai memaksimalkan potensi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat alternatif.
Menurut Mahyeldi, langkah ini penting dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dan menjaga stabilitas bangsa.
“Konsumsi beras di Sumbar masih tinggi, sehingga diversifikasi pangan harus terus didorong,” ujar Mahyeldi, dikutip dari Antara, Kamis (6/11/2025).
Mahyeldi mengatakan, masyarakat perlu lebih banyak memanfaatkan bahan pangan lokal seperti ubi, labu, sagu, dan pisang yang tidak kalah bergizi dibanding beras.
“Misalnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai bisa makan pisang dengan gulai ikan,” katanya.
Ia menegaskan, menjaga ketahanan pangan tidak sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tetapi juga bagian dari upaya menjaga stabilitas dan kemandirian bangsa.
“Menjaga ketahanan pangan itu sama dengan menjaga ketahanan bangsa,” tegasnya.
Dia juga mengajak seluruh pihak—mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat—untuk bersama-sama mengembangkan potensi pangan lokal agar Sumatera Barat bisa menjadi daerah yang mandiri dan cukup pangan.
“Kalau kita mampu mengelola potensi yang ada, seperti hasil pertanian dan perkebunan lokal, kita tidak hanya mandiri, tapi juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Mahyeldi.
Lebih lanjut, Gubernur menyebut program Smart Food B2SA menjadi langkah penting untuk membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan peduli gizi. Pemerintah, katanya, tidak hanya fokus pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada keamanan, mutu, dan kehalalannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Sumbar, Iqbal Ramadi Payana, menambahkan bahwa kegiatan Smart Food B2SA merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang percepatan diversifikasi pangan.
“Melalui program ini, kita ingin mengedukasi masyarakat agar tidak hanya mengandalkan beras, tapi juga memanfaatkan bahan pangan lokal yang melimpah,” kata Iqbal.
Iqbal menyebutkan bahwa Sumbar kini berada di posisi delapan besar nasional dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 89,0 pada 2024. Capaian ini, menurutnya, membuktikan bahwa masyarakat mulai beralih menuju pola konsumsi yang lebih beragam dan bergizi.
Dengan upaya bersama dalam mengembangkan diversifikasi pangan lokal, pemerintah berharap Sumatera Barat bisa menjadi contoh daerah yang berhasil menekan ketergantungan terhadap beras sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Berita Terkait
-
Benarkah Beras dan Rokok Penentu Garis Kemiskinan Warga Jakarta?
-
Awal Februari, Harga Beras dan Cabai Rawit Kompak 'Nanjak'
-
Mayoritas Harga Pangan Turun, Cabai Rawit Merah Masih Naik Tembus Rp 62.000/kg
-
Harga Beras Naik di Tengah Deflasi, Harga Eceran Inflasi 3,44 Persen
-
Harga Pangan Nasional Didominasi Penurunan Awal Februari 2026, Beras dan Bawang Merah Terkoreksi
Terpopuler
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
5 Cara Memilih Sunscreen Nyaman, Anti Lengket dan Anti Perih di Mata
-
9 Lipstik Glossy Tahan Lama, Bibir Berkilau Seharian
-
Benarkah TikTok Tutup Tokopedia dan Diganti TikTok Shop? Ini Penjelasanya
-
CEK FAKTA: Prabowo Marah Luhut Main Proyek IMIP, Benarkah?
-
5 Lipstik Lokal Awet dan Tahan Lama, Harganya Nggak Bikin Kantong Jebol!