SuaraSumbar.id - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) menyoroti dampak ketegangan geopolitik global yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Gejolak ini dinilai memengaruhi penurunan volume ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Sumbar. Padahal, CPO merupakan salah satu komoditas ekspor utama wilayah dari tanah Minang.
Kepala BI Perwakilan Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, konflik yang terjadi di beberapa negara berpengaruh signifikan terhadap kinerja ekspor CPO dari Indonesia, termasuk dari Ranah Minang.
"Konflik yang semakin intensif mempengaruhi penurunan permintaan terhadap komoditas utama, termasuk minyak kelapa sawit mentah," katanya, Rabu (6/11/2024).
Menurut Majid, ketegangan politik global membuat para eksportir enggan mengambil risiko impor CPO dalam jangka panjang. Hal ini menurunkan volume ekspor dari Sumbar, di mana permintaan dari pasar internasional semakin selektif dalam menerima komoditas ekspor karena adanya kebijakan untuk melindungi produk lokal di negara tujuan ekspor.
Mengantisipasi kendala ini, Majid menyarankan pemerintah untuk terus mendorong hilirisasi produk seperti CPO, yang dapat diolah menjadi biodiesel atau produk turunan lain. Langkah ini diyakini akan memperkuat posisi produk Indonesia di pasar internasional, khususnya dari Sumatera Barat.
Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Sugeng Arianto mengatakan, harga komoditas unggulan saat ini mengalami peningkatan di pasar global. Namun, kenaikan harga ini justru menurunkan permintaan CPO, sehingga mempengaruhi kinerja ekspor dari Sumbar.
Data BPS menunjukkan, pada September 2024 nilai ekspor dari Sumbar mencapai lebih dari Rp 2,1 triliun, turun 43,72 persen dibandingkan bulan Agustus 2024. Dari jumlah tersebut, ekspor minyak kelapa sawit mentah menyumbang Rp204 miliar.
Sugeng mengimbau pemerintah untuk terus mencari solusi diversifikasi pasar sekaligus mendorong inovasi dalam pengolahan minyak kelapa sawit mentah agar tetap berkontribusi terhadap ekonomi Sumbar di tengah ketidakpastian global. (antara)
Berita Terkait
-
Eks Direktur Bea Cukai Jalani Sidang Perdana, CPO Diduga Direkayasa Jadi Limbah
-
Saham Wilmar di Singapura Anjlok, Usai Pemerintah RI Bidik Dugaan Manipulasi Ekspor Sawit
-
Harga Sawit Anjlok Usai Ekspor Satu Pintu, Petani Terdampak! Pemerintah Tegur 139 PKS
-
Kejagung Tahan Eks Ombudsman Yeka Hendra Terkait Korupsi Minyak Goreng
-
Kejagung Ajukan Kasasi atas Vonis Bebas Tiga Terdakwa Kasus Perintangan Penyidikan CPO
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Harga Sepeda Lipat Entry Level Terbaik Berapa? Ini 5 Rekomendasinya di Tahun 2026
- 3 HP Infinix Murah dengan Fast Charging 33W, Mulai Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
Terkini
-
Kisah Haru PMI Yuni, BRI Pertemukan dengan Ibunya Setelah 10 Tahun Bekerja di Taiwan
-
BRImo Taiwan, Langkah BRI Dekatkan Layanan Kepada Pekerja Migran Indonesia
-
Alek Nagari Berpadu Teknologi, Pacuan Kuda Payakumbuh Tembus Standar Nasional
-
Dari Prompt hingga Strategi Bisnis, Buku Baru Dr. Dini Fronitasari Sasar Pelaku UMKM
-
IHR Merdeka Cup dan Sarga Festival Hadir di Sumatera Barat, Rayakan Semangat HUT ke-81 RI