SuaraSumbar.id - Cap radikal baru muncul beberapa tahun terakhir. Perkataan radikal ini populer setelah adanya insiden Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Hal dinyatakan KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym.
Setelah itu, cap radikal itu makin gencar setelah adanya gerakan massa umat Islam 212 di Monas beberapa tahun lalu.
Menurut Aa Gym, cap radikal hanya karena beda pendapat dan tidak mau menuruti pihak tertentu itu adalah sesuatu yang sangat berlebihan.
Aa Gym menjawab pertanyaan Karni Ilyas soal persepsi banyak tokoh dan pemuka agama yang radikal di Indonesia. Sepengetahuannya, kata radikal mulai laris sejak insiden Ahok.
"AA dakwah sudah sangat lama ya, kenal juga dengan banyak pihak. Kata radikal ini sebetulnya baru datang akhir-akhir ini saja nih. Kalau nggak salah, mulainya sesudah ada kejadian dengan pak Ahok itu," katanya, dikutip dari Hops.id - jaringan Suara.com, Kamis (17/2/2022).
Lantas, cap radikal dan intoleran itu makin laris setelah ada gerakan 212 pada 2016. Aa Gym mengakui dia bukan radikal dan intoleran. Baginya, kalau umat Islam itu radikal, Indonesia ini sudah berantakan sejak lama.
"Indonesia damai rukun saja sampai hari ini. Apalagi, gerakan 212 itu yang bersejarah juga menunjukkan berjalan dengan damai kok, bahkan rumput pun aman," katanya.
"Jadi sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, benar ada perilaku menyimpang, yang Aa anggap menyimpang ya, dari tindakan-tindakan teror, dan itu sangat tidak sepakat ya," jelasnya.
Aa Gym mengakui memang ada tindakan atau perilaku teror dari oknum yang beragama Islam dan pihak kepolisian memiliki wewenang untuk menertibkan itu.
Baca Juga: Aa Gym Ingatkan Soal Petaka Dunia Akhirat di Kasus Rizieq Shihab dan Bahar Bin Smith
"Yang jelas kekerasan seperti itu tidak menjadi pemikiran kita umat Islam. Kalau radikal ini disebut karena beda pendapat, tidak menurut pihak tertentu, tidak sefrekuensi, walau benar dianggap radikal, itu tidak adil dan tidak menyelesaikan masalah," jelasnya.
Aa Gym mengatakan, untuk kasus masjid dipetaan dan pesantren terafiliasi dengan radikalisme, dia berpandangans sebaiknya penegak hukum langsung tindak saja oknum yang radikal itu.
"Jangan malah melabeli pesantren atau masjidnya, langsung tangkap, tindak dan adili, nggak usah melabeli malah menjadikan umat Islam merasa sakit, khususnya pesantren dan masjid," katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Proyek Ibu Kota Negara Nusantara Dibongkar, Pengamat Sebut Jokowi dan Ahok
-
Pertamina Disebut Rugi Rp 11 Triliun, Janji Ahok Kembali Diungkit
-
Bersaing dengan Ahok, Sosok Ini Dinilai Berpotensi Jadi Kepala Otorita IKN
-
Ahok Ditolak Jadi Pemimpin IKN Karena Dianggap Bakal Buat Onar, Viko Minta Dipimpin Putra Asli Daerah
-
Helmi Felis Dukung Ahok Jadi Pemimpin IKN, Agar Jakarta Kembali Jadi Kota Beradab
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
BRI Hadirkan Semarak Merah Putih di Desa BRILiaN Balbar Sofifi, UMKM Turut Rasakan Manfaatnya
-
Warga Agam Temukan Tengkorak-Tulang Manusia di Sawah, Diduga Korban Bencana
-
Sumbar Kirim 2,1 Ton Rendang ke NTT
-
Kisah Haru PMI Yuni, BRI Pertemukan dengan Ibunya Setelah 10 Tahun Bekerja di Taiwan
-
BRImo Taiwan, Langkah BRI Dekatkan Layanan Kepada Pekerja Migran Indonesia